Senin, 01 Agustus 2011

Wave the Flag!

Aloha! 
Akhirnya! Tanggal 9 juli 2011 sampai juga di depan muka. Kami melangkah mantap menuju terminal bis Safari Dharma di Kebayoran. Karena bawaan kami begitu membludag, jadilah kami diantar bapakku yang baik. :D
Sudah kucium tangan kanan kedua orang tuaku, sudah kupeluk mereka dengan keras, sudah kutampilkan senyum dan janji terbaikku, “aku akan baik-baik saja!” sudah terlambai telapak tangan yang perlahan menjauh. Sampai hilang pandangan, aku menoleh ke arah Mala dan nyengir “Lets jump in!”

yeah we are so ready!
Berasa seperti jagoan baru keluar kandang, aku dan Mala duduk manis di kursi tunggu dan bercanda menunggu jam menuju pukul 15.00 yang kira-kira 15 menit lagi. Terminal begitu penuh dengan bis, orang dan barang bawaan. Semua sibuk, sangat terasa hiruk pikuk. Aku jongkok tenang di antara tumpukan barang dan kulkas. Menulis catatan sembari menunggu gadgetku dicharge. Menit berlalu, tumpukan waktu mulai membentuk jam, kami sudah menunggu hampir satu jam. Ya mungkin bisnya sedang dipersiapkan. Kami masih bisa bercanda, mondar mandir dan mengumbar tawa. Lalu matahari bergeser makin ke barat dan bis kami pun tak ada tanda-tanda mendarat. Aku manyun. Uring-uringan sok sibuk dengan ipodku. Seorang laki-laki duduk mendekati kami, mukanya hampir sama, maka aku bertanya “Mau ke Mataram juga?” dan dia mengangguk putus asa. “ih sama! Udah delay 2 jam ini” lalu kami kembali duduk lemas menonton televisi yang sedang menyajikan ricuh-ricuh PSSI.
Pukul 5.35 akhirnya sebuah bis kuning besar datang ke pelataran parkir dan seseorang membuka pintu ruang tunggu dan berteriak “MATARAM!”. Seperti dikomando, kami memasukkan barang dan duduk di tempat masing-masing dengan rapih dan tenang. Tidak ada misuh-misuh, tidak ada damprat, tidak ada tatap sinis. Hanya keteraturan yang mendukung agar bis itu segera berangkat. Terkaget sejenak, bagaimana bisa sebegini tenangnya, padahal delay hampir 3 jam. Suatu hal yang baru bagiku. Mungkin aku harus lebih belajar menjadi seperti mereka.
Hasil dari delay 3 jam adalah: Bis yang kita pakai adalah armada terbaik, dan baru. Yeay asik! Karena armada yang tadinya mau kita pakai itu ternyata rusak dan entah kapan benarnya. Bis itu benar-benar nyaaamaaannn. Shock breakernya benar-benar lembut karena airbag, kursinya besar dan lebar, drivernya lucu-lucu.
bis yang kami puja-puja
Perjalanan mengambil waktu 3 hari. 4 kali makan, 2 kali naik kapal ferry dan berpuluh jam di jalan darat. 72 jam itu menghasilkan perkenalan yang berujung pertemanan. Dengan ini kami mengetahui bahwa pak Hanafi, driver dengan tertawa yg super ajaib itu memiliki anak perempuan yang baru berumur satu tahun.
Sepotong pembicaraan lucu di jalan tol menuju Surabaya
“Pak anaknya baru satu ya?” Medelyn membuka pembicaraan
“Iya lagi lucu-lucunya tuh kayak kamu”
“Anak dari istri yang mana nih pak?” mbak Esti tiba-tiba ikutan nyeletuk
“Istri saya cuma satu, yang ini..”
“Oooh..” kita koor
“..Saya punya anak lagi sih sama yang sebelumnya, sudah jadi pengusaha sekarang”
“Yeh itu namanya bukan satu dong istrinya!”
“Enggak, tetep satu. Kan saya udah gak sama yang sebelumnya. Lagian dulu saya kan samen leven aja sama yang sebelumnya.”
“Ohh baiklah” *nganga*
“Emang istri bapak yang sekarang umurnya berapa?” aku iseng bertanya.
“Yaaa, se kamu lah. 22 tahun dia sekarang”
“Yah pak! Saya aja 24 tahun sekarang!”
“Hati-hati ditaksir loh” mbak Esti kembali nyeletuk
“Pak jangan naksir sayaaa” aku sok histeris
“Enggak lah, kamu mah kayak anak saya tuh cakepnya”
“Asik deh dibilang cakep” *nyengir*
“Eh tapi kalo Mala mirip sama mantan saya dulu tuh. Orang bogor. Kerja di pabrik”
Mala pun teriak kaget. Kami tertawa puas.
“Gara-gara liat kamu saya jadi inget dia deh”
Mala berteriak makin kencang, kami tertawa makin bar-bar dan pak Hanafi senyum-senyum lucu.
Dan masih banyak lagi pembicaraan-pembicaraan yang ringan namun sangat ampuh untuk membunuh waktu dan kantuk.
inilah penampakan bapak Hanafi kita yang lucu sekali. :D

Salah satu penghuni luar biasa di bis kami adalah sepasang suami istri beserta anaknya yang masih 8 bulan. Bukan sang ayah dan ibu yang menjadi sumber masalah, melainkan si bayi laki-laki yang bermata bulat lucu dan suara luar biasa. Kami menjulukinya bayi rocker. Dia mampu menangis berjam-jam dengan intensitas suara yang sama tinggi dan tekanan yang sama menyakitkan. Pertama kami kasihan mendengar tangis anak itu, aku tahu bagaimana rasanya berjam-jam digendong dan digoyang-goyang di dalam bis. Aku tahu ia ingin mengulet dan guling-guling di kasur. Lalu lama-lama mulai kesal karena tangisannya yang tanpa menyerah dan sungguh nyaring. Sampai akhirnya kuping kami terinisiasi dengan baik dengan teriakannya. Kami pun bisa tetap tidur nyenyak meski sang anak sedang konser besar.
Kupikir hanya aku dan Mala yang gemar membicarakan sang bayi rocker, ternyata seantero bis pun membicarakan hal yang sama. Tidak, tidak membenci, hanya membahasnya dengan kelakar.
“Pak, nanti nih ya, kalo saya udah tua, saya nyalain radio trus denger lagu rock, saya pasti tau suara dia. Saya udah hapal banget nih sama teriakannya si kecil ini. Nanti udah gede jadi penyanyi ya! Tar panggil-panggil pak Hanafi kalo abis nyanyi. Ya! Ya!” sang ayah pun tertawa mendengar canda pak Hanafi yang selalu ceplas-ceplos.
Perjalanan laut dari Padang Bai ke Lembar sungguh menyenangkan. 5 jam terombang-ambing dan kami memilih duduk di geladak kapal. Dengan 5 calon anak MAPALA dari IBI dan seorang pendaki Rinjani, serta beberapa orang tersesat lain yang memilih mengistirahatkan diri di bagian depan kapal, kami menghabiskan waktu. Entah itu tidur pasrah, berbincang atau sekedar menertawakan kelakuan orang lain. 
5 anak calon mapala yang akan mendaki Rinjani. mereka sungguh polos dan lucu-lucu. :P
Duo ratu tidur. Nesya dan Mala.
Di tengah laut, setelah bosan duduk bergoyang-goyang. Aku, Mala bersama mas Bond dan 5 anak calon MAPALA melongok lautan, aku begitu mengagumi kebiruan air sampai suatu yang berkecipak mengganggu penglihatanku. Dan ya, itu lumba-lumba. Histeris, aku memberitahu yang lain dengan kesenangan yang berlebih dan ternyata yang lain pun sama ributnya dan untungnya, para lumba-lumba memang sedang mengitari kami, mengikuti sambil menari. Mala dan mas Bond histeris memanggil-manggil lumba-lumba itu dengan panggilan “krrrrr kkrrrrr” lalu kami pun tertawa, itu ikan, bukan ayam. Sungguh ketertarikan yang berlebih, seekor makhluk tuhan yang sering kami lihat di tv atau seaworld, tapi begitu melihat nyata di habitatnya, rasanya meledak tidak biasa. :D
kkkrrrrr krrrrrrr

1st hour on the ship
 hours later..

Mala dan mas Bond, pendaki gunung yang pemabok laut, sangat.
entah ini para korban apa.. hahaha


Nesya n Medelyn yg seenak udelnya tidur di tengah jalan. diomelin pak Hanafi "bilangin itu anak 2, suruh tidur di bis aja. malu-maluin safari dharma aja" LOL

Tontonan gratis, pre-inisiasi 5 anak calon anggota. HAHAHA

11 juni 2011, pukul 3 sore, di depan kantor Safari Dharma di Mataram, kami saling berjabat tangan dan membekali kenalan dengan doa sederhana, berkata akan bertemu lagi, nanti itu kapan. Saling tersenyum dan berjalan berlawanan arah. Lambai tangan dan senyum membingkis perpisahan itu dengan apik. 
Sisa-sisa penumpang yang masi mau eksis. there's rocker baby among them. :D

Yes we’re here, in Lombok!  *aku nyengir girang*