Sabtu, 28 September 2013

Semahal Apa Kata Maaf Itu?

Karena gengsi, ada yang rela perang dingin sampai seminggu bahkan seumur hidup. Padahal kuncinya satu, maaf. Baik meminta maaf atau menerima maaf. Jadi, seberapa mahal sih sebenarnya maaf itu sendiri?

Baru saja teman saya, sahabat saya, berpanjang lebar mengemukakan keberatannya atas ceng-cengan saya dan teman saya lainnya. Tidak satu dua kalimat, tapi nyerocos tanpa jeda. Syukurnya tidak secara langsung, karena jika iya, kami pasti sudah salah tingkah.


Tapi kalimat-kalimatnya yang seakan sudah dipendam bertahun-tahun itu mampu membuat saya meringis salah tingkah seakan dia ada di depan saya. Saya tahu betapa kesalnya dia. Kami memang tak tahu bahwa sebegitu dalam ia terganggu dengan candaan kami.


Awalnya, saya mau cuci tangan saja. Diam dan tidak membalas sampai pembicaraan berubah arah. Tapi saya sedang berusaha jadi manusia yang lebih simpel. Jadilah saya lewatkan ego dan gengsi.

"Yaudah, maaf ya kalo ternyata itu nohok, nanti kita sebisa mungkin ga ceng-cengin itu lagi ya,"

enter.

Dan saya merasa lebih tenang, bebas. Tinggal tunggu bagaimana tanggapan dia. Butuh sejam lebih untuk menenangkan diri, mungkin. Akhirnya anak ini kembali muncul, dengan suasana hati yang lebih tenang, dan syukurnya, menerima maaf kami dengan cepat.


Andai tidak ada maaf dan hanya ada pembelaan diri dari masing-masing, entahlah. Mungkin room chat kami sudah sedingin freezer yang pintunya rusak, atau malah sepanas wajan sudah kehabisan minyak.

Di lain sisi, saya pun sedang perang dingin dengan salah satu sahabat saya (iya sahabat saya banyak, kayak sahabat Dahsyat). Sudah cukup lama, mungkin satu bulan. Kami sama-sama Gemini, ego kami sama-sama tinggi.


Satu yang membuat saya diam tak bergeming, saya tak paham di bagian mana saya harus minta maaf. Jadi, ya, maaf, kami tidak berhubungan sementara dulu ya.

Saat ini memang saya sedang belajar mengakui kesalahan langsung kepada yang bersangkutan. Saya juga sedang belajar menerima maaf walaupun sebenarnya kesal. Tapi, saya belum mau belajar selalu meminta maaf di setiap saat. Maaf, kata maaf saya dibarengi logika yang masuk akal.

 

#30haringisiblog day 3

Jakarta 28.9.2013 4.05 PM
Masuk Weekend yang lumayan panjang. Setelah ngurusin draft Travel Highlight dan sedang tidak sabar menunggu editan berita terakhir. Habis ini saya mau lari sore di taman kota terdekat. :)


*Saya sebenarnya sudah nulis ini dari sore, tapi pas mau pulang kantor baru inget kalo belum posting. Setelah capek main dan ketiduran, barulah posting sekarang. :D

Kamis, 26 September 2013

Melihat Sifat Seseorang dengan Naik Gunung

Selama ini saya yakin, jika ingin melihat sifat asli seseorang, suruh dia menyetir. Bukan 1-2 jam, tapi kalau bisa seharian. Tapi, kata teman saya, melihat sifat orang juga bisa dengan perjalanan saat naik gunung.
 
Kalau dengan menyetir, lewati saja rute-rute yang membuat stres. Lihat bagaimana ia mengatasi kemacetan, bagaimana dia menanggapi kendaraan lain yang mengesalkan dan lainnya. Juga, lihat bagaimana reaksi mereka saat jalan yang dilewati ternyata salah. Dari situ terlihat jelas apakah dia orang yang pemarah, penyabar, lelet, malas dan lain-lain.

Selama ini berhasil saja, sampai akhirnya teman saya yang bernama Bagus Sekti Wibowo yang biasa dipanggil Dado berkata, "Kalau mau liat sifat asli orang, ajak naik gunung," ujarnya sambil menyeka hidung yang sudah terlalu banyak kemasukan debu dan tanah.

Kemarin, saya bersama sahabat entah berapa belas tahun saya, Rani Amelia yang biasa saya panggil Ayam, dan Dado naik gunung. Bukan gunung yang tinggi dan juga bukan gunung yang menantang seperti di film 5cm. Gunung Prau di dataran tinggi Dieng ini jadi pilihan kami karena awalnya kami memang ingin liburan ke Wonosobo.

Tapi karena waktu itu saya membuat artikel yang mengharuskan wawancara dengan Harley B Sastha, sang empunya buku Mountain Climbing for Everybody, jadilah saya tergoda ingin ke Prau.

"Di Prau ada Bukit Teletubbies yang kalau musim kemarau ditumbuhi bunga cantik sekali. Rutenya juga gak susah, tingginya lumayan, enak deh," ujarnya dengan penuh persuasif.

Jadilah kami berangkat. Dengan pede setingkat Burj Al Arab, saya semangat sekali naik gunung. Maklum, belum pernah sama sekali. Tidak mengagetkan, baru berapa langkah mendaki, saya langsung balik badan dan melempar tas sambil menasbihkan diri, "Udah gua anak pantai!".

Mungkin saya kurang tidur, mungkin saya kelaparan atau tidak tahan dingin. Dada seperti ditusuk-tusuk, mata berkunang-kunang, jantung berdegup kencang dan badan keringat dingin. Saya cuma tidak mau collapse di kampung orang. Jadi saya duduk dengan nestapa di tepian terasiring penduduk. Meninggalkan kedua teman saya yang berdiri dengan sabar menunggu saya kembali berdiri.

Singkatnya, dengan pakai jaket agar badan tetap panas, saya lanjutkan perjalanan. Dan, ngg, dengan tas dibawakan oleh Dado, saya melanjutkan trekking. Setelah berkali-kali berhenti (karena saya), akhirnya kami benar-benar berhenti untuk makan siang.

Ya benar, setelah makan siang, saya kembali bawa tas sendiri. Rani, anak yang belum pernah naik gunung tapi sangat suka dengan gunung (tidak aneh ya) ini mendaki terus tanpa merasa lelah. Ia sempat beberapa kali tidur siang demi menunggu saya dan Dado (ia selalu menunggu di belakang saya karena tidak percaya jika saya ditinggal sendiri).

Makin ke puncak, makin ketek sekali treknya. Saya megap-megap. Dado kerap menyemangati saya dengan kata-kata palsu "dua belokan lagi sampe pi!". Pret!

Di nafas seadanya, dan sudah benar-benar kesal dengan jalan yang curam, saya berteriak minta tolong ke Rani (yang sudah di puncak) untuk turun dan membawakan tas saya. Mungkin karena semangat, mungkin karena kasihan, ia turun kembali dan mengambil tas saya.

Sepanjang perjalanan, tak ada yang menjatuhkan saya dengan kata-kata pedas. Sepanjang pendakian, mereka mau menunggu saya dengan sabarnya. Padahal, tas yang dibawa Dado benar-benar berat. Padahal, saya tahu betapa tak sabarnya Rani ingin segera sampai puncak.

Mereka baik. Tanpa dipaksa. Tanpa syarat. Sungguh sayang saya (semoga iya). Nah, setelah sampai puncak, barulah banjiran ceng-cengan dan hinaan menumpahi saya. Toh tapi waktu saya kedinginan mereka tetap mencarikan yang terbaik buat saya agar tidak gemetaran lagi.

Sebenarnya, tanpa naik gunungpun saya tahu seperti itu sifat mereka. Itulah yang terpampang di keseharian mereka. Tapi dengan ini, saya jadi yakin, ya memang seperti itulah sifat asli mereka.

Saya pun bisa mengenal diri sendiri dengan lebih baik. Bagaimana saya menghadapi saat putus asa. Bagaimana melewati batas kemampuan. Sejauh mana saya mau mengejar orang lain yang lebih dulu. Bagaimana saya menyayangi diri sendiri. Serta, bagaimana saya tetap bisa bersenang-senang saat sedang tersiksa. :)


up up there


*#30haringisiblog day 2
27.9.2013 11.26 AM
Tanggalan di komputer lagi berantakan jadinya publishnya keliatan kemarin deh. Sumpah deh ini hari Jumat. :DD

Falling for You

Dalam waktu 3 hari ini, (kayaknya sih) udah 4 kali saya jatuh. Tapi yang saya ingat cuma 3 aja sih.Mungkin satunya lagi, jatuh hati sama kamu. Yes?

Yang pertama karena ketula pas lagi turun gunung. Sebelumnya saya liat ada 2 anak kecil asik dry-soil boarding pake sepatu mereka pas turun gunung. Saya ngeliat trek turunannya yang licin banget gara-gara tanahnya kering. Cuma ngedumel sendiri, "Asik kali ya nyero.." sroooooooooot! Sayapun kepeleset dan nyerosot dengan cakepnya di turunan itu.

"Iseng sih, mangkanya kalo ngomong jangan sembarangan," kata teman saya, Dado, yang kesabarannya mulai tipis saat menghadapi saya.

Selanjutnya di Wonosobo saat sedang mencari hotel. Saya asyik sendiri melihat kiri-kanan yang isinya para pedagang (kebanyakan pedagang buah) di pasar induk Wonosobo. Sampai saya tidak sadar kalau jarak antara trotoar dan jalan raya bisa sejauh itu. Jadinya kaki mendarat miring dan badan jatuh ala model yang mau diculik. 

Tangan kiri menggapai bemper mobil lagi parkir, tangan kanan pasrah terjatuh ke aspal. Badan miring seadanya soalnya keril di punggung beratnya kurang ajar. Dibangunin sambil diketawain sama kedua teman saya si Rani dan Bagus. Oleh-oleh dari jatuh itu ya luka di lutut dan malu sama mbak penjaga warung di depan tempat saya jatuh. 

Lalu, baru saja kejadian hari ini. Saya jatuh nyusruk sedemikian rupa di depan gerobak gorengan. 

Bekasnya, yang paling besar, malu. Malu sama penjaga warung depan abang gorengan yang setiap hari saya lewatin. Malunya ga berujung. Menyedihkan. Luka nambah pula di dengkul. Memar dua di dengkul, satu di tangan dan satu di kaki. 

Bukan main, sangat anak esde ya kelakuan saya!

*Jadi, saya ingin bermain #30haringisiblog
Dari mana asal mainan ini? Dari saya aja. Sudah terlalu banyak cerita yang saya simpan sendiri di kepala. Sudah berderet kisah-kisah yang dijanjikan akan digoreskan di sini. Kasihan mereka. 
Baiklah. Ini hari pertama ya. Walau sudah malam, tetap saja ini itungannya hari pertama. Sampai berjumpa di hari esok dan 28 hari lainnya!

Depok, 26.9.2013 10.09 PM
Dengan mata sepet tapi tangan masih kegatelan pingin nulis. 

Sabtu, 01 Juni 2013

Perjalanan vs Musik

Sebagai seorang penyuka musik, saya anggap perjalanan sebagai waktu untuk fokus ke musik. Sepanjang jalan bisa membekap kedua telinga dengan earphone. Mendengarkan ribuan lagu yang sengaja dimainkan acak.

Ditambah lagi, dengerin lagu sambil menatap nanar ke jendela. Udah paling bener deh, berasa jadi model video clip!

Menurut teori suka-suka, melihat pemandangan di sepanjang jalan sambil dengerin lagu itu lebih menguatkan memori, sekaligus menambah dramatis. Tsah. Di kereta, mobil, pesawat, jalan kaki, saya sama-sama suka dengerin musik.

Kecuali naik becak, bemo atau delman. Karna biasanya cuma sebentar. Sama naik ojek, nanti abangnya kesel kalo dia nanya kita ga denger. :D

Tapi sebenernya, selalu dengerin musik itu, apalagi kalo jalannya sama temen-temen, keluarga atau pacar, kayak egois ga sih. Instead of socializing, you prefer to lock yourself along with melody. Juga kalo lagi jalan kaki dan dengerin musik, bisa bahaya. Antara keserempet kendaraan, ga denger pas dipanggil, sama rentan gampang dicopet.

Tapi gimana ya, saya suka. Maaf-maaf yah. :)

Rabu, 22 Mei 2013

Culas

Culas itu sifat atau kebiasaan?
Menghadapi orang yang culas harus kasihan atau kesal?

Kalau saya, lebih merasa kasihan. Mungkin dia tidak sadar tingkah culasnya, mungkin itu penyakit jiwa yang susah sembuh. Berbuat curang dengan selimut intrik itu sama sekali tidak ada baiknya.

Mengambil hal yang bukan haknya dengan mencomot fakta-fakta tak kuat, atau mempergunakan fasilitas atau benda umum dengan embel-embel kekuasaan yang lebih kuat. Menarik ya buatmu? Saya kasihan.

Rasa cukup akan milik diri sendiri bukanlah hal yang mudah untuk ditumbuhkan. Layaknya manusia, sudah sewajarnya tidak mudah puas akan sesuatu. Beruntunglah orang-orang yang bisa berdamai dengan kenyataan dan hidup bahagia dengan yang dipunya.

Rejeki itu sudah digariskan bahkan dari sebelum kau menarik nafas untuk pertama kalinya di dunia. Kehilangan atau ketiban rejeki itu bukan karena kebetulan. Semua akan turun ke masing-masing orang, dengan cara yang sulit atau lancar.

Mendapat rejeki lancar bukan dengan mengumpulkan remah harta kotor, tapi dengan berbuat baik, jujur dan tetap menjaga harta halal. Dari mana asal pengertiannya, tapi karma benar-benar bekerja.

Menurutmu jadi perhitungan bisa bikin lebih kaya. Hitunganmu boleh ketat, tapi hitungan Tuhan maha adil.


dok Thinkstock dari artikel

Mendatangi Tempat Ibadah, Bagaimana Seharusnya?

Waktu itu saya sempat protes waktu diingatkan untuk bawa baju yang sopan dan sepatu saat mau liburan ke Bangkok. Kenapa repot banget, pikir saya. Tapi toh tetap saja saya bawa baju sopan dan sepatu nyaman buat jalan-jalan.

Meski sudah sampai sana dan merasakan nuansanya, tetap saya tak merasa harus mematuhi semua peraturan yang ada. Teman-teman saya pun ada beberapa yang dengan santainya mengambil jubah karena pakaian mereka dianggap terlalu pendek.

Di depan pintu masuk ada penjaga yang memegang banyak jubah hijau, saat itu saya mau liat Buddha tidur di Wat Pho. Di tumbukan mata yang pertama saya pun langsung merasa ciut. Pandangan seperti elang yang menyapu badan orang-orang dan langsung memberikan jubah kepada mereka yang terlihat seronok. 


Di matanya terdengar kencang, "Saya harus jaga tempat suci ini dengan sepenuh hati!". ..dan saya akhirnya mengerti.

Kedua di Ayutthaya. Seorang ibu sedang sangat khusyu berdoa, dan melihat seorang turis bercelana pendek melewati sang ibu yang sedang terpejam dan menelungkupkan tangan bukanlah pemandangan yang sedap dipandang. 


Sekali melihat, tak perlu peringatan lain. Takkan lagi saya misuh-misuh saat disuruh memakai atribut saat mengunjungi tempat-tempat sakral.

Jumat, 03 Mei 2013

In a Path of Mine

I always have my purest smile. It's because I never regret everything in my life. I simply step my foot to anywhere I feel I want to go. I taste everything I interested in. I do everything I take my curiousity at.

So when I heard or saw anything, I can say "Oh, I've been there doing that," with silly or happy smile on my face. Why's that? Because older people once told me, do anything before your life gets heavier. I take it as a ticket to ride!

I known couple grown ups people. I see regret on their eyes, I see missing soul, I heard chained words and so on. I don't want to be one of them. Like friend once said, "I wanna life my life out loud". Me too, my dear friend.

And as much I remember, I always take both chance and challenge. Thankfully, I souldn't have to do something against my will (Thank an ocean for that, my dear sweet God above). Without forgetting boundaries, I live my life freely.

I'm now count as a grown up ones. But still using my heart as a compass. I won't do something when my heart says no. But no offense, now logic take part too. Worry? Not at all. Cause my logic as friendly as my heart.

Last words? This is my happy life! :)

pasir pantai di Kuta Bali sore-sore