Sabtu, 07 Desember 2013

Inspiration

I have no inspirator. I don't know what I want in life. I do have dreams. I do living some of them. But I have no current muse to follow.

When some little soul comes to you and said, "Sister, you're so cool, I want to be a teacher like you," tell me how to not melting. My little sister she is. She was just stepped 5 years old at that moment she said that. It probably because she saw so many letters my kids gave me at my bday.

Maybe she want to have that kind of attention. Maybe she just love that.

Then I came to Wae Rebo in Flores, NTT, for my work. As usual, my birth gift maybe is to be a teacher. I just love talked to kids, and they simply like it.

One little boy came to me, asked, "What do you do for living?" I smiled, "Smart qs, dear". He insisted, "What do you do?", "A journalist," I answer.

"What is that? So you write everything, so you take a lot of picture?" he said so because he saw me doing that kind of things a whole day.

"Yes, and that job take me to see the world. I didn't know that I could be here, talk to you, exploring Wae Rebo with my eyes. But since its my work, it take me here, and any other place on earth" I said.

"Cool" he nodded his head

"You know what the best part of it? I'm sharing the news, the knowledge, the view I've seen, all the beautiful things,"

"You share happiness?"

"Kinda"

"Exploring other place, giving good news. Maybe I want to be like you"

"You'll be, dear. You'll be"

:')

 

Selasa, 08 Oktober 2013

Perihal Piket Pagi

Saya bekerja di media online. Itu mengharuskan kami menaikkan berita dari pagi-pagi sekali. Dari sana, muncullah istilah piket pagi yang menguras hari.

Piket pagi, bagi saya, berarti harus tidur lebih sore dan berangkat jauh lebih pagi. Biasanya saya berangkat pukul 9 lewat. Kalau piket pagi harus sudah berangkat dari pukul 6 kurang.

Harus melawan macet, kantuk dan lapar. Sampai kantor langsung naikin berita dan kordinasi dengan redpel via instant messaging. Lalu nyari berita, ganti ini itu. Naikin berita lagi.

Terus begitu sampai pukul 5 sore di mana tugas itu akan dikerjakan oleh mereka yang piket sore. Piket pagi bagi kami adalah ujian. Meski biasanya piket ini hanya dijalani seminggu sekali. Jika sedang naas bisa seminggu dua kali.

Jika besoknya piket pagi, berarti malam ini saya tidak bisa tidur terlalu malam. Berarti saya tidak bisa bermain setelah pulang kantor. Dan masih banyak yang tidak bisa saya lakukan.

Piket pagi penuh perjuangan tapi itu bagian dari kerjaan. Gak perlu ngeluh, lalui saja.

Besok saya piket pagi. Jadi saat ini (seharusnya) saya sudah tidur.

#30haringisiblog day lalalala~
08.10.2013 11.10 PM
Saat lambung dan hati sama-sama meronta, siapa yang ditenangkan lebih dahulu?

Senin, 07 Oktober 2013

Currently Read books

Oh sangat Gemini sekali judulnya. Menggunakan jamak. Oke, jadi ini buku(-buku) yang sedang saya baca.

Yang pertama Marriagable karya Riri Sardjono dan yang kedua murjangkung karya A.S Laksana. Karena sama-sama baru akan dibaca, jadi saya ceritakan saja kenapa saya pilih dua buku ini.

Saya mendengus saat membaca judul Marriagable, sambil selanjutnya misuh-misuh, "cmon please". *guling-gulingin bola mata*. Tapi tetep saya baca sinopsis di bagian belakang buku. Yang buat saya ambil buku itu dari rak buku adalah bagian kalimat ini,

"Hormon, darling! Kadang-kadabg kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!"

Nah.

So i bought it, say hello to your friends, Marriagable *goyang-goyangin buku di lemari buku*.

Yang kedua murjangkung. Saya suka dengan judulnya. Gak jelas. Apalagi sama tag di bawah judul, "cinta yang dungu dan hantu-hantu". Oh my heaven!

Karya yang kayak gini yang bikin saya jatuh cinta sama sastra. Blak-blakan yang terlilit beragam rahasia. Setiap kalimat pekat dengan analogi. Setiap chapter punya lebih dari satu cerita. Meski terlihatnya cuma satu, banyak hal yang bisa dikupas. Ah, cintaku. Tunggu aku tenggelam bersamamu. Muah!

Jadi itulah, dua buku yang akan bersama saya selama beberapa hari ke depan.

#30haringisiblog day gak-tau-lagi

7.10.2013 9.09 PM
Hancur sudah flow hashtag 30haringisiblog.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Cinta Sederhana

Hari ini saya bersama Nisa, Ani dan Upun main ke kampus. Duduk santai di payung kantin dan kenangan kuliah menyergap begitu saja. Tawa tentu menguntai setiap deretan kenangan itu.

Tapi satu yang menarik perhatian kami; betapa sederhananya (ternyata) cinta kita pada masa itu.

Apa sih permasalahan paling pelik yang bisa dialami kami saat menggebet atau pacaran dengan seseorang waktu kuliah. Paling dia gak suka kita, atau dia punya pacar, ujar Ani dengan gaya yaelah.

Simpel kan. Mau suka sama yang bentuknya kayak apa juga bebas. Mau Diekspresikan kayak gimana juga terserah. Ada hari seru ada yang sendu. Tapi paling sendu pun, ditiban dengan becandaan bareng kawan-kawan pun bisa lupa. Yasudah. Selesai begitu saja.

Tapi sekarang?

#30haringisiblog day 9
6.10.2013 01.08 AM
Technically i skipped 2 days. But since its only an eary morning, so please count it as Oct 5th please. Pardon for yesterday, i got severe fever i cant stand with any gadget. The light just got me worse. 

Kamis, 03 Oktober 2013

Trio

Akhir-akhir ini saya sedang sering sekali ngumpul bersama teman-teman tongkrongan. Biasanya ber 6 atau 8. Tapi karena kini banyak yang di luar kota, banyak juga yang sibuk, jadi tinggal bertiga.

Inilah kami. Para ampas. -__-

Tapi toh banyak yang bisa kami bincangkan. Dari masalah serius hingga yang tidak berguna sama sekali.
And sometimes you dont need any words, appearance will answer all you need. 
 
#30haringisiblog day 8
3.10.2013 8.57 PM
Baru selesai nganter 3 anak cimit dan di sinilah saya, Lawson dekat rumah hanya sekadar untuk berbagi kisah sehari-hari.

Rabu, 02 Oktober 2013

Sekilas

Cukup sekilas
Tak perlu waktu lama menyadari
Kilau hatimu yang lembut menyapa
Sekilas saja
Aku tahu
Sekilas waktu
Aku jatuh
Tak ingin aku meronta
Melawan gravitasi
Jatuh dalam hatimu
Sekilas selamanya

#30haringisiblog day 7
2.10.2013 10.42 PM
Sedang mengasah kembali kemampuan sastra yang ternyata kacrut banget. Bye!

Selasa, 01 Oktober 2013

Gadget Segalanya?

Saat ini, rasanya tidak mungkin tidak membawa gadget. Apapun itu. Bahkan, ada yang lebih rela ketinggalan dompet dibanding ketinggalan gadget. Entah kita sudah masuk ke era macam apa. 

Gadget sangat penting. Penting sekali sehingga bisa membuat orang cerewet jadi pendiam. Bisa membuat orang pendiam makin pendiam. Ada yang sibuk di media sosial, ada yang game, ada lagi asyik foto-foto.

Apapun itu, seakan dunia sudah ada di genggaman. Menyenangkankah? Atau malah mengganggukah?

Bapak saya, yang biasa saya panggil Abah, sangat tidak suka dengan anak yang ketergantungan dengan gadget. Apapun itu. Ia tidak akan mengajak saya bicara selama tangan saya masih ketak-ketik, meski mata saya jelas ke dirinya.

Jadi, jika ingin mengobrol atau sekadar bercanda dengannya, lempar dulu semua gadget. 

Saya punya teori suka-suka mengenai hal ini. Jika saya benar-benar menikmati sebuah keadaan, momen, sesi, atau apapun itu, saya bisa melupakan  gadget. Selama masih menyentuh gadget, kamu belum benar-benar menikmati atau mensyukuri. 

Sebut saja, kamu tahu orang yang di depan kamu adalah segalanya bagimu ketika kamu tak berminat menyentuh gadget selama bersamanya. Tak perlu update di sosial media, tak perlu mengintip apa yang orang lain sedang lalukan.

Fck with 'em. I got my own precious and i ain't gonna waste it with some gadget. 

Keadaan itu terjadi begitu saja. Saat ngobrol dengan keluarga, saya bisa tertawa atau malah berbincang serius berjam-jam. Tak peduli ada apa di ponsel saya. Kalau benar-benar urgent, mereka bisa menelepon. Tidak perlu saya yang buka-buka chat atau message. 

Begitu juga saat nonton konser. Saat saya benar-benar menikmati lagu dan performer, saya tak peduli dengan apa yang harus ditangkap. Satu yang pasti, saya mau lihat mereka dengan mata telanjang. Secara langsung. 

Biarlah tak dapat foto close up yang blur atau apapun itu. Biarlah tak dapat potongan rekaman konser. Semua itu bisa dicari di Youtube atau jika ingin yang hi-res, bisa beli dvdnya. Ya mungkin, satu foto dua foto untuk diingat bolehlah. 

Biarlah mereka yang live tweet yang sibuk dengan gadget. Saya ingin menikmati apa yang ada di depan mata saya. Biarlah nanti tinggal saya reTweet atau rePath.

Lagipula rasanya itu kayak apa banget gitu. Kayak waktu itu di @america, ada konser Seringai. Di mana penontonnya anak kucrit, anak mall begitulah. Yang tak ada moshing, cuma asyik angguk-angguk kepala sambil mantengin ponsel di tangan buat merekam atau motret. Wtf?!

Saya lebih senang berada di tengah penonton yang dari daerah. Yang ponselnya biasa saja, cuma bisa sms atau telpon. Dengan begitu, mereka bisa benar-benar menikmati musik. Biarlah bawa bendera atau spanduk besar sekali. Biarlah moshing mereka membuat takut. Biarlah bau ketek dan keringat. Karena begitulah konser seharusnya berjalan. Bukan dengan mereka yang diam, wangi dan hanya merekam sepanjang konser. Man, pull over, get outta here. 

 
No gadget on their hands, only \m/


Go ahead, burn the room!


Sepenting apa gadget itu? Penting. Tapi tak sampai membuat saya jadi babu teknologi.  

#30haringisiblog day 6
01.10.2013 19.10 PM
When day went just like that.. 
 

Senin, 30 September 2013

A Really Ordinary Monday

Saya tak pernah benci dengan hari Senin. Karena, selama ini saya selalu punya alasan yang lebih menyenangkan untuk menghadapi hari Senin. Tapi Senin ini, semua terasa terlalu biasa.

Ya, akhir pekan saya hampir selalu keren, menyenangkan dan seru. Baik itu di rumah diam saja atau ke mana-mana sampai lupa tidur. Semua asyik, semua seru.

Senin pun tak kalah seru. Saya punya teman-teman yang bisa diajak bercanda kapan saja, tentang apa saja. Saya punya pula teman-teman yang selalu ramai di chat group. Pokoknya, Senin bukan masalah buat saya, hari kerja bukan kekangan hidup saya.

Tapi hari ini, Sastri lagi asyik cuti, solo traveling ke Sukothai, Thailand selama seminggu. Putri lagi liputan. Ada Afif yang bisa diajak bercanda sih. Tapi hari ini dia lagi piket.

Yasudah saya sendiri saja duduk di meja. Anteng. Tanpa banyak becanda. Paling cuma beberapa, meski becandaan basi, tetap saja senang karena bisa menarik kedua ujung bibir saja jadi sebuah senyuman (garing).

Gah! Am so bored, please lemme go!

Hari ini biasa saja. Sungguh biasa. Saya tidak ngantuk. Saya tidak bosan (banget). Cuma sedang mengeluhkan sensasi biasa ini. Syukurnya, hari ini terasa cepat berlalu. Tiba-tiba sudah hampir pukul 16 sekarang.

Rencananya nanti sore saya mau bertemu dengan teman saya, Yosa yang saat ini sedang sibuk terus. Semoga jadi dan kami janji, kami akan menghabiskan waktu dengan sebodoh-bodohnya.

#30haringisiblog day 5

Jakarta 30.9.2013 3.52 PM

Sedang mendengarkan Michael Buble. Mengantuk tidak, melow pun tidak. Datar sekali hari ini. Saya tidak suka hidup yang datar.

Sabtu, 28 September 2013

Soul Healer: Wonosobo

"Wonosobo itu menenangkan, semuanya membuat tenang, seperti obat jiwa,"

Begitulah kata Gol A Gong waktu saya wawancara mengenai destinasi wisata yang menenangkan untuk artikel. Itu sudah lama, lama sekali. Tapi saya selalu ingat. Tanpa bayangan, saya membulatkan hati ingin ke sana.

Sore di Alun-alun

Setelah ini itu, sekian lama, akhirnya datanglah saya ke sana. Tak perlu waktu lama bagi kota kecil nan teduh itu untuk membuat saya jatuh cinta padanya. Kotanya bersih, jalannya mulus, pepohonannnya rindang. 


Yang tak bisa saya lewatkan, penduduknya ramah, kotanya, meski sudah di pusat kota, tidak terasa terlalu hiruk-pikuk. Saya senang sekali menghabiskan waktu di alun-alunnya. Sambil merinding karena udaranya cukup dingin.

Kota tenang ini menawarkan keramahan dan kebaikan yang tak berharap balas. Suatu sore yang gerimis, saya sedang asyik menikmati mie ongklok yang hangat dan enak. Tiba-tiba ada motor jatuh. Mungkin karena licin sedang hujan.

Penjaja mie ongklok, yang kebetulan orang itu jatuh di depan gerobaknya, langsung menolong. Teman saya, Bagus, juga langsung membantu sang korban. Abang mie langsung meminggirkan motor dengan seksama, memarkirkannya dan mengambil kunci. Setelah itu, meneliti motor apa ada yang rusak atau tidak. 

Ia mendatangi korban sambil memberi kunci, "Ndak papa motornya mas, masnya ada yang luka?" katanya kuatir. Dijawab anggukan terima kasih dari sang korban.

Sebelumnya, saat ditolong, bahkan dengan masih susah payah berdiri, sang korban, yang kira-kira masih kuliah ini, sempat-sempatnya mengungkapkan terima kasih kepada teman saya, "Makasih ya mas," tuturnya sambil terseok dipapah Bagus. 

Tak lama, seorang ibu dari kejauhan datang dengan kedua tangan di belakang. Matanya memperhatikan korban ini dari atas sampai bawah. Saya mikir, "ibu-ibu penasaran juga..". Sampai akhirnya,

"Ini nduk minum dulu, basuh dulu lukanya," ujarnya sambil memberikan aqua gelas ke korban. 

Ibu ini ternyata penjual minuman di ujung jalan. Melihat kejadian ini, dia gak kepo (gak kayak saya). Dia malah mendatangi buat nolong. Ah terharunya saya.  


Kebayang gak kalau di Jakarta. Melihat orang jatuh, orang-orang langsung mengerubung seperti semut mendatangi gula. Bedanya, kalau semut mengambil gula, orang-orang ini hanya menontoni seperti sedang nonton dangdut dorong. Ada yang berhenti langsung foto, ada yang mondar-mandir sambil menelepon (gak tau nelpon siapa), ada yang nanya-nanya, ada yang cuma diem aja kayak di depan kuburan. Yang benar-benar menolong? Bisa dihitung dengan jari. 

Cerita lain waktu saya naik angkot. Waktu itu angkot cukup penuh, ada dua anak sekolah yang memberhentikan mau naik. Tapi karena malas duduk di bangku tambahan, dua anak itu tak jadi naik, "Pa'e ndak jadi ya.." dengan nada yang lembut. (Kalau di Jakarta, gak jadi naik itu biasanya pake nada ketus sambil buang muka, atau nada sok sibuk yang habis itu melipir entah ke mana)

Saya langsung berpikiran, pasti didamprat nih. Ya kalau di Jakarta, kalau berhentiin angkot dan ga jadi naik pasti udah dikata-katain atau at least, dijutekin tanpa ampun. Tapi ternyata tidak.

"Inggih.." jawab sang supir dengan lembut dan jalan lagi tanpa rasa kesal sama sekali. 

Masih banyak, banyak sekali kejadian-kejadian yang membuat hati saya hangat. Positif sekali aura yang saya dapatkan selama dua hari itu. Dari sanalah, tersadar betapa saya sangat apatis selama ini. Betapa mudahnya saya berpikiran buruk dengan sekitar. Betapa saya ingin membalas semua keburukan yang telah datang ke saya. 

Di sana, saya belajar lebih ramah. Di sana pula, saya belajar ikhlas menghadapi hidup. Jangan terlalu ingin adil dan tidak mau mengalah. Mengalah untuk menang. Akhirnya saya mengerti arti itu. Bukan untuk menang mencapai yang nomor satu. Lebih kepada menang untuk ketenangan hati. Hati yang tenang membuat semua lebih indah. 

Ia dapat lebih baik, biarkan saja. Ia tidak memberikan apa yang saya harapkan, yasudah. Berusahalah sebaik mungkin, tapi terimalah kenyataan. Hati yang bersih dan hidup yang bahagia bahkan mampu membuat iri orang paling kaya dan berkuasa di dunia. Bersyukurlah. 

#30haringisiblog day 4
Depok, 29.9.2013 12.40 PM
Terpaksa selesai karena saya disuruh goreng tempe mendoan sama ibu tersayang. Selamat hari Minggu! 

 
Kalo sore, ya nongkrong di sini


 
Jalannya bersih, temboknya asik


 
Taman kota. Cakep ya!


Jl A Yani, jalan favorit saya. Lurusan pasar dan beragam kedai makanan :9
 
Beringin di Alun-alun, sejuk deh!

Semahal Apa Kata Maaf Itu?

Karena gengsi, ada yang rela perang dingin sampai seminggu bahkan seumur hidup. Padahal kuncinya satu, maaf. Baik meminta maaf atau menerima maaf. Jadi, seberapa mahal sih sebenarnya maaf itu sendiri?

Baru saja teman saya, sahabat saya, berpanjang lebar mengemukakan keberatannya atas ceng-cengan saya dan teman saya lainnya. Tidak satu dua kalimat, tapi nyerocos tanpa jeda. Syukurnya tidak secara langsung, karena jika iya, kami pasti sudah salah tingkah.


Tapi kalimat-kalimatnya yang seakan sudah dipendam bertahun-tahun itu mampu membuat saya meringis salah tingkah seakan dia ada di depan saya. Saya tahu betapa kesalnya dia. Kami memang tak tahu bahwa sebegitu dalam ia terganggu dengan candaan kami.


Awalnya, saya mau cuci tangan saja. Diam dan tidak membalas sampai pembicaraan berubah arah. Tapi saya sedang berusaha jadi manusia yang lebih simpel. Jadilah saya lewatkan ego dan gengsi.

"Yaudah, maaf ya kalo ternyata itu nohok, nanti kita sebisa mungkin ga ceng-cengin itu lagi ya,"

enter.

Dan saya merasa lebih tenang, bebas. Tinggal tunggu bagaimana tanggapan dia. Butuh sejam lebih untuk menenangkan diri, mungkin. Akhirnya anak ini kembali muncul, dengan suasana hati yang lebih tenang, dan syukurnya, menerima maaf kami dengan cepat.


Andai tidak ada maaf dan hanya ada pembelaan diri dari masing-masing, entahlah. Mungkin room chat kami sudah sedingin freezer yang pintunya rusak, atau malah sepanas wajan sudah kehabisan minyak.

Di lain sisi, saya pun sedang perang dingin dengan salah satu sahabat saya (iya sahabat saya banyak, kayak sahabat Dahsyat). Sudah cukup lama, mungkin satu bulan. Kami sama-sama Gemini, ego kami sama-sama tinggi.


Satu yang membuat saya diam tak bergeming, saya tak paham di bagian mana saya harus minta maaf. Jadi, ya, maaf, kami tidak berhubungan sementara dulu ya.

Saat ini memang saya sedang belajar mengakui kesalahan langsung kepada yang bersangkutan. Saya juga sedang belajar menerima maaf walaupun sebenarnya kesal. Tapi, saya belum mau belajar selalu meminta maaf di setiap saat. Maaf, kata maaf saya dibarengi logika yang masuk akal.

 

#30haringisiblog day 3

Jakarta 28.9.2013 4.05 PM
Masuk Weekend yang lumayan panjang. Setelah ngurusin draft Travel Highlight dan sedang tidak sabar menunggu editan berita terakhir. Habis ini saya mau lari sore di taman kota terdekat. :)


*Saya sebenarnya sudah nulis ini dari sore, tapi pas mau pulang kantor baru inget kalo belum posting. Setelah capek main dan ketiduran, barulah posting sekarang. :D

Kamis, 26 September 2013

Melihat Sifat Seseorang dengan Naik Gunung

Selama ini saya yakin, jika ingin melihat sifat asli seseorang, suruh dia menyetir. Bukan 1-2 jam, tapi kalau bisa seharian. Tapi, kata teman saya, melihat sifat orang juga bisa dengan perjalanan saat naik gunung.
 
Kalau dengan menyetir, lewati saja rute-rute yang membuat stres. Lihat bagaimana ia mengatasi kemacetan, bagaimana dia menanggapi kendaraan lain yang mengesalkan dan lainnya. Juga, lihat bagaimana reaksi mereka saat jalan yang dilewati ternyata salah. Dari situ terlihat jelas apakah dia orang yang pemarah, penyabar, lelet, malas dan lain-lain.

Selama ini berhasil saja, sampai akhirnya teman saya yang bernama Bagus Sekti Wibowo yang biasa dipanggil Dado berkata, "Kalau mau liat sifat asli orang, ajak naik gunung," ujarnya sambil menyeka hidung yang sudah terlalu banyak kemasukan debu dan tanah.

Kemarin, saya bersama sahabat entah berapa belas tahun saya, Rani Amelia yang biasa saya panggil Ayam, dan Dado naik gunung. Bukan gunung yang tinggi dan juga bukan gunung yang menantang seperti di film 5cm. Gunung Prau di dataran tinggi Dieng ini jadi pilihan kami karena awalnya kami memang ingin liburan ke Wonosobo.

Tapi karena waktu itu saya membuat artikel yang mengharuskan wawancara dengan Harley B Sastha, sang empunya buku Mountain Climbing for Everybody, jadilah saya tergoda ingin ke Prau.

"Di Prau ada Bukit Teletubbies yang kalau musim kemarau ditumbuhi bunga cantik sekali. Rutenya juga gak susah, tingginya lumayan, enak deh," ujarnya dengan penuh persuasif.

Jadilah kami berangkat. Dengan pede setingkat Burj Al Arab, saya semangat sekali naik gunung. Maklum, belum pernah sama sekali. Tidak mengagetkan, baru berapa langkah mendaki, saya langsung balik badan dan melempar tas sambil menasbihkan diri, "Udah gua anak pantai!".

Mungkin saya kurang tidur, mungkin saya kelaparan atau tidak tahan dingin. Dada seperti ditusuk-tusuk, mata berkunang-kunang, jantung berdegup kencang dan badan keringat dingin. Saya cuma tidak mau collapse di kampung orang. Jadi saya duduk dengan nestapa di tepian terasiring penduduk. Meninggalkan kedua teman saya yang berdiri dengan sabar menunggu saya kembali berdiri.

Singkatnya, dengan pakai jaket agar badan tetap panas, saya lanjutkan perjalanan. Dan, ngg, dengan tas dibawakan oleh Dado, saya melanjutkan trekking. Setelah berkali-kali berhenti (karena saya), akhirnya kami benar-benar berhenti untuk makan siang.

Ya benar, setelah makan siang, saya kembali bawa tas sendiri. Rani, anak yang belum pernah naik gunung tapi sangat suka dengan gunung (tidak aneh ya) ini mendaki terus tanpa merasa lelah. Ia sempat beberapa kali tidur siang demi menunggu saya dan Dado (ia selalu menunggu di belakang saya karena tidak percaya jika saya ditinggal sendiri).

Makin ke puncak, makin ketek sekali treknya. Saya megap-megap. Dado kerap menyemangati saya dengan kata-kata palsu "dua belokan lagi sampe pi!". Pret!

Di nafas seadanya, dan sudah benar-benar kesal dengan jalan yang curam, saya berteriak minta tolong ke Rani (yang sudah di puncak) untuk turun dan membawakan tas saya. Mungkin karena semangat, mungkin karena kasihan, ia turun kembali dan mengambil tas saya.

Sepanjang perjalanan, tak ada yang menjatuhkan saya dengan kata-kata pedas. Sepanjang pendakian, mereka mau menunggu saya dengan sabarnya. Padahal, tas yang dibawa Dado benar-benar berat. Padahal, saya tahu betapa tak sabarnya Rani ingin segera sampai puncak.

Mereka baik. Tanpa dipaksa. Tanpa syarat. Sungguh sayang saya (semoga iya). Nah, setelah sampai puncak, barulah banjiran ceng-cengan dan hinaan menumpahi saya. Toh tapi waktu saya kedinginan mereka tetap mencarikan yang terbaik buat saya agar tidak gemetaran lagi.

Sebenarnya, tanpa naik gunungpun saya tahu seperti itu sifat mereka. Itulah yang terpampang di keseharian mereka. Tapi dengan ini, saya jadi yakin, ya memang seperti itulah sifat asli mereka.

Saya pun bisa mengenal diri sendiri dengan lebih baik. Bagaimana saya menghadapi saat putus asa. Bagaimana melewati batas kemampuan. Sejauh mana saya mau mengejar orang lain yang lebih dulu. Bagaimana saya menyayangi diri sendiri. Serta, bagaimana saya tetap bisa bersenang-senang saat sedang tersiksa. :)


up up there


*#30haringisiblog day 2
27.9.2013 11.26 AM
Tanggalan di komputer lagi berantakan jadinya publishnya keliatan kemarin deh. Sumpah deh ini hari Jumat. :DD

Falling for You

Dalam waktu 3 hari ini, (kayaknya sih) udah 4 kali saya jatuh. Tapi yang saya ingat cuma 3 aja sih.Mungkin satunya lagi, jatuh hati sama kamu. Yes?

Yang pertama karena ketula pas lagi turun gunung. Sebelumnya saya liat ada 2 anak kecil asik dry-soil boarding pake sepatu mereka pas turun gunung. Saya ngeliat trek turunannya yang licin banget gara-gara tanahnya kering. Cuma ngedumel sendiri, "Asik kali ya nyero.." sroooooooooot! Sayapun kepeleset dan nyerosot dengan cakepnya di turunan itu.

"Iseng sih, mangkanya kalo ngomong jangan sembarangan," kata teman saya, Dado, yang kesabarannya mulai tipis saat menghadapi saya.

Selanjutnya di Wonosobo saat sedang mencari hotel. Saya asyik sendiri melihat kiri-kanan yang isinya para pedagang (kebanyakan pedagang buah) di pasar induk Wonosobo. Sampai saya tidak sadar kalau jarak antara trotoar dan jalan raya bisa sejauh itu. Jadinya kaki mendarat miring dan badan jatuh ala model yang mau diculik. 

Tangan kiri menggapai bemper mobil lagi parkir, tangan kanan pasrah terjatuh ke aspal. Badan miring seadanya soalnya keril di punggung beratnya kurang ajar. Dibangunin sambil diketawain sama kedua teman saya si Rani dan Bagus. Oleh-oleh dari jatuh itu ya luka di lutut dan malu sama mbak penjaga warung di depan tempat saya jatuh. 

Lalu, baru saja kejadian hari ini. Saya jatuh nyusruk sedemikian rupa di depan gerobak gorengan. 

Bekasnya, yang paling besar, malu. Malu sama penjaga warung depan abang gorengan yang setiap hari saya lewatin. Malunya ga berujung. Menyedihkan. Luka nambah pula di dengkul. Memar dua di dengkul, satu di tangan dan satu di kaki. 

Bukan main, sangat anak esde ya kelakuan saya!

*Jadi, saya ingin bermain #30haringisiblog
Dari mana asal mainan ini? Dari saya aja. Sudah terlalu banyak cerita yang saya simpan sendiri di kepala. Sudah berderet kisah-kisah yang dijanjikan akan digoreskan di sini. Kasihan mereka. 
Baiklah. Ini hari pertama ya. Walau sudah malam, tetap saja ini itungannya hari pertama. Sampai berjumpa di hari esok dan 28 hari lainnya!

Depok, 26.9.2013 10.09 PM
Dengan mata sepet tapi tangan masih kegatelan pingin nulis. 

Sabtu, 01 Juni 2013

Perjalanan vs Musik

Sebagai seorang penyuka musik, saya anggap perjalanan sebagai waktu untuk fokus ke musik. Sepanjang jalan bisa membekap kedua telinga dengan earphone. Mendengarkan ribuan lagu yang sengaja dimainkan acak.

Ditambah lagi, dengerin lagu sambil menatap nanar ke jendela. Udah paling bener deh, berasa jadi model video clip!

Menurut teori suka-suka, melihat pemandangan di sepanjang jalan sambil dengerin lagu itu lebih menguatkan memori, sekaligus menambah dramatis. Tsah. Di kereta, mobil, pesawat, jalan kaki, saya sama-sama suka dengerin musik.

Kecuali naik becak, bemo atau delman. Karna biasanya cuma sebentar. Sama naik ojek, nanti abangnya kesel kalo dia nanya kita ga denger. :D

Tapi sebenernya, selalu dengerin musik itu, apalagi kalo jalannya sama temen-temen, keluarga atau pacar, kayak egois ga sih. Instead of socializing, you prefer to lock yourself along with melody. Juga kalo lagi jalan kaki dan dengerin musik, bisa bahaya. Antara keserempet kendaraan, ga denger pas dipanggil, sama rentan gampang dicopet.

Tapi gimana ya, saya suka. Maaf-maaf yah. :)

Rabu, 22 Mei 2013

Culas

Culas itu sifat atau kebiasaan?
Menghadapi orang yang culas harus kasihan atau kesal?

Kalau saya, lebih merasa kasihan. Mungkin dia tidak sadar tingkah culasnya, mungkin itu penyakit jiwa yang susah sembuh. Berbuat curang dengan selimut intrik itu sama sekali tidak ada baiknya.

Mengambil hal yang bukan haknya dengan mencomot fakta-fakta tak kuat, atau mempergunakan fasilitas atau benda umum dengan embel-embel kekuasaan yang lebih kuat. Menarik ya buatmu? Saya kasihan.

Rasa cukup akan milik diri sendiri bukanlah hal yang mudah untuk ditumbuhkan. Layaknya manusia, sudah sewajarnya tidak mudah puas akan sesuatu. Beruntunglah orang-orang yang bisa berdamai dengan kenyataan dan hidup bahagia dengan yang dipunya.

Rejeki itu sudah digariskan bahkan dari sebelum kau menarik nafas untuk pertama kalinya di dunia. Kehilangan atau ketiban rejeki itu bukan karena kebetulan. Semua akan turun ke masing-masing orang, dengan cara yang sulit atau lancar.

Mendapat rejeki lancar bukan dengan mengumpulkan remah harta kotor, tapi dengan berbuat baik, jujur dan tetap menjaga harta halal. Dari mana asal pengertiannya, tapi karma benar-benar bekerja.

Menurutmu jadi perhitungan bisa bikin lebih kaya. Hitunganmu boleh ketat, tapi hitungan Tuhan maha adil.


dok Thinkstock dari artikel

Mendatangi Tempat Ibadah, Bagaimana Seharusnya?

Waktu itu saya sempat protes waktu diingatkan untuk bawa baju yang sopan dan sepatu saat mau liburan ke Bangkok. Kenapa repot banget, pikir saya. Tapi toh tetap saja saya bawa baju sopan dan sepatu nyaman buat jalan-jalan.

Meski sudah sampai sana dan merasakan nuansanya, tetap saya tak merasa harus mematuhi semua peraturan yang ada. Teman-teman saya pun ada beberapa yang dengan santainya mengambil jubah karena pakaian mereka dianggap terlalu pendek.

Di depan pintu masuk ada penjaga yang memegang banyak jubah hijau, saat itu saya mau liat Buddha tidur di Wat Pho. Di tumbukan mata yang pertama saya pun langsung merasa ciut. Pandangan seperti elang yang menyapu badan orang-orang dan langsung memberikan jubah kepada mereka yang terlihat seronok. 


Di matanya terdengar kencang, "Saya harus jaga tempat suci ini dengan sepenuh hati!". ..dan saya akhirnya mengerti.

Kedua di Ayutthaya. Seorang ibu sedang sangat khusyu berdoa, dan melihat seorang turis bercelana pendek melewati sang ibu yang sedang terpejam dan menelungkupkan tangan bukanlah pemandangan yang sedap dipandang. 


Sekali melihat, tak perlu peringatan lain. Takkan lagi saya misuh-misuh saat disuruh memakai atribut saat mengunjungi tempat-tempat sakral.

Jumat, 03 Mei 2013

In a Path of Mine

I always have my purest smile. It's because I never regret everything in my life. I simply step my foot to anywhere I feel I want to go. I taste everything I interested in. I do everything I take my curiousity at.

So when I heard or saw anything, I can say "Oh, I've been there doing that," with silly or happy smile on my face. Why's that? Because older people once told me, do anything before your life gets heavier. I take it as a ticket to ride!

I known couple grown ups people. I see regret on their eyes, I see missing soul, I heard chained words and so on. I don't want to be one of them. Like friend once said, "I wanna life my life out loud". Me too, my dear friend.

And as much I remember, I always take both chance and challenge. Thankfully, I souldn't have to do something against my will (Thank an ocean for that, my dear sweet God above). Without forgetting boundaries, I live my life freely.

I'm now count as a grown up ones. But still using my heart as a compass. I won't do something when my heart says no. But no offense, now logic take part too. Worry? Not at all. Cause my logic as friendly as my heart.

Last words? This is my happy life! :)

pasir pantai di Kuta Bali sore-sore

Jumat, 12 April 2013

Solo Traveling: Yogyakarta

Akhirnya traveling saya dan Mala berpisah di tengah Jawa. Malce ke Pacitan dan saya ke Yogyakarta. Sebelumnya ke Surabaya dulu sehari. Numpang makan dan tidur di rumah Mas Edo, sepupu saya yang setengah waras itu.

Pagi hari, saya naik kereta dari Surabaya ke Yogyakarta. Sampai di sana, langsung jalan kaki ke kawasan Malioboro. Hari pertama cuma ke kaki Gunung Merapi sama ke Museum Gunung Merapi. Yang seru hari kedua. Saya keluar pagi-pagi langsung ke Prambanan.

Naik TransJogja, trus muter-muter Prambanan. Lama-lama merhatiin satu-satu candi, duduk-duduk santai sambil liatin orang-orang yang foto-foto, sambil nyari nomor telp bus buat pulang.

Lagi sibuk nelpon mesen bus, tiba-tiba ada bapak-bapak yang notice saya mau ke Jakarta. Katanya mau bareng. Tapi karna mukanya mencurigakan, saya iyakan aja abis itu hapus nomernya.

Enaknya jalan sendiri itu, bisa lama-lama melakukan hal yang mungkin dianggap orang lain tidak penting atau membosankan. Tapi malah buat saya itu menyenangkan sekali. Saya bisa jalan santai sambil merhatiin sekeliling.

Prambanan yang sepi pagi-pagi, manis sekali :)

Selesainya, saya kembali ke kawasan Malioboro dengan naik TransJogja lagi. Di bandara, tiba-tiba naik 2 anak perawakan Cina, bawa tas Carrier segede gaban dan penuh. Satu anak kakinya luka kayak digigit kucing.

Karena lagi di luar kota dan saya tak peduli siapa saya, dengan pede nanya aja ke anak itu tentang kakinya. Dia cuma dadah-dadah. Saya tetep tunjuk kakinya. Sampai akhirnya dia ngomong dalam bahasa enggres, "I dont speak Indonesian,". Lah sih, mukanya kayak orang Surabaya atau Manado gitu. -___-

Ternyata, mereka (Calvin dan  Ryan) orang Vietnam yang dari lahir udah di California. Datang ke Indonesia dalam rangka liburan musim panas, traveling thru Asia, incl Indonesia. Masalah utama adalah, mereka menjadikan Yogyakarta sebagai jejak pertama di Indonesia. Plus, ketemunya sama saya. :DD

Ala backpacker dan anak-anak kuliahan lainnya, mereka turun pesawat dengan modal Lonely Planet. Mau nyari penginapan plus travel buat sunrise ke Bromo. Karena mukanya naas-naas ngarep dibantu, akhirnya seharian itu saya bertigaan nyari penginapan sama travel ke Bromo. Dari siang sampe tengah malem.

Seniman jalanan yang walau luarnya beringas tapi ada otak cerdas di dalamnya

Bahkan mereka mau-mau aja diajak keliling Mirota. Dengan sotoynya mereka mau ke Bromo tapi modal kaus kutang nenek doang. Ditakut-takutin udaranya dingin, mereka pun mau beli jaket dan dengan bangga beli jaket yang batik. -___-

Malemnya, kami mangkal di alun-alun dan makan mie godog yang warungnya paling rame. Lalu kami saling bercerita, gimana mereka muter-muter Asia termasuk akhirnya ke kampung halamannya untuk yang pertama kali sampai saya yang dengan bangga cerita jalan-jalan dengan modal ngemper sana-sini.

Lalu tengah malam datang dan kami kembali ke kamar masing-masing. Oh iya, mereka itu ya polos ya, waktu saya tawarin nitip bekpek di kamar saya (sebelum nyari kamar buat mereka), dengan polosnya mereka nawarin share room. Nyeakhh! Saya udah melotat-melotot aja, eh mereka mukanya rata, eh iya maap yaaa situ pada dari mana asalnya, beda kultur dan batasan kita ya.. -___-

Setelah mutar muter Malioboro yang semua penginapan penuh, ujung-ujungnya mereka nginep di kamar double di depan kamar saya. *itu setelah saya ngos-ngosan curhat ke bapak yang punya penginapan kalo abis nganterin mereka nyariin kamar* ternyata bapak ini memang menghindari punya tamu bule. Karena, alasannya dia, mereka ribet dan kadang suka mabuk dan cari masalah. Tapi setelah liat muka melas kami bertiga, akhirnya ia yakin kalo dua anak ilang ini ga akan bikin masalah. Lagi pula, mereka bakal pergi jam 4 pagi kok, langsung ke Bromo.

Kisah mereka ke Bromo diceritakan dengan ramai via chatting dan wall di fesbuk. Lalu kami pun masih temenan sampai sekarang, via Instagram. :)

  
Calvin dan Ryan, duet anak ilang yang ngintilin seharian di solo trip saya

Di hari terakhir, saya sempatkan jalan-jalan ke sepanjang Malioboro termasuk ke Pasar Beringharjo untuk merasakan suasana beda dari kawasan yang selalu membuat saya jatuh cinta. Pertokoan masih tutup, beberapa tukang becak masih lelap di dalam becaknya. Jalanan yang lengang saya nikmati bareng matahari muda yang masih hangat.

Sampai di pasar, hilang sudah sunyi senyap yang tadinya milik saya saja. Penjaja makanan dan pembeli sama banyaknya, sama-sama ramai. Saya pun membaur dengan membeli sarapan pecel nan enak! Selesai dari sana, saya sempatkan berkeliling pasar untuk membeli oleh-oleh titipan sepupu yang kalo ga dibeliin bakal ngambek 2 bulan.

Sampai sekarang belum sempat lagi buat solo traveling. Padahal, enaknya ga ada yang ngalahin, plus pengalamannya bakal 18 kali lebih aneh dibanding waktu liburan bareng temen. Mau coba ke Wonosobo dan Dieng kemarin, eh Gunung Diengnya ngambek, ngeluarin asap beracun dan sering gempa. Belum jodoh!

Minggu, 23 Desember 2012

Drama Twitter

Akhir-akhir ini kayaknya semua orang lagi hobi main drama di sosial media deh. Berantem lah di status. Sindir-sindiran di Twitter lah.

Kalau di status bbm masih bisa dilewatin deh. Cukup ga usah buka-buka recent updates, beres. Tapi beda lagi ceritanya kalau udah di Twitter.

Jujur buat saya, Twitter itu tempat cuap-cuap apa saja. Bebas. Asal enak dibaca. Bukan berarti harus pakai kata-kata cantik atau tone kalimat yang sama. Nyenengin pas dibaca. Gitu aja.

Marah-marah? Boleh! Ngedumel? Silahkan! Curhat? Lanjutkan!

Asal..ga sok suci. Ngambek sama temen di Twitter tapi no mention. Hobinya nyindir orang. Sarkasme yang dibalut emoticon smile. Oh please.. Kalo kata MJ, Make world a better place for living.

Ceramah panjang lebar pun tak apa. Twitter itu bebas.

Tapi, sekali lagi, buat saya, timeline sebaiknya bersih dari hal-hal negatif seperti itu.

Karena apa?
Bayangkan sedang berada di kemacetan yang bikin penat tapi pas buka Twitter malah tambah pusing gara-gara orang nyinyir tapi minta diperhatiin.
Atau,
Tengah malem lg nunggu ngantuk tapi malah ketemu hal-hal sejenis.

Ya saya pun tak luput dari no mention atau nyinyir. Tapi ketika saya sadar mulai begah dengan hal seperti itu, sebisa mungkin dikurangilah post-post senada itu.
Saya lebih senang dihadapi man to man daripada harus ribut no mention.
Ya saya pernah beberapa kali man to man dan selesai dengan baik. Orang yang baca pun bisa tahu harus lihat ke mana buat nyari puzzle cerita.

Kawanku sayang, think positively. :)

Jumat, 09 November 2012

Tantangan Harusnya Diambil atau Dilewati?

Mimpi itu ga pernah seindah kenyataan..pada awalnya. Ga ada orang sukses tanpa usaha. Ga ada orang bisa pinter tanpa belajar. Walo ada juga sih orang cakep tanpa dandan dan ada orang yang udah kaya tanpa usaha.*nahlo :D

Mimpi saya ya bisa terus nulis sama bisa tetep jalan-jalan. Tuhan jawab mimpi saya. Jadilah saya jurnalis travel di media online hits ibukota. Karena iming-iming bakal ditempatin di Travel, saya oke-oke aja nih pas BKO di News. Tujuannya sih sederhana, biar anak baru tau gimana sih flow kerja di sini.

Menurut pasir berbisik, saya dan Putri (anak baru travel juga) cuma akan floating selama seminggu aja. Tapi nyatanya kita hampir 3 minggu di News. Kalo diinget sekarang, serunya bukan main.

Bayangin, setiap pagi nasib kita ke mana itu ditentuin sama sms dari Mas Gagah (korlip News). Sekali waktu saya bisa asik-asikan maksi di ruang kapolsek (mana saya lupa) trus tiba-tiba saya ada di ruang introgerasi, nanya-nanyain preman yang baru ketangkep.

Pernah juga setengah hari cuma nongkrong di pinggiran HI sambil komat-kamit semoga ada yang demo biar saya dapet berita. Ada juga yang ke dinas tenaga kerja. Ceritanya nungguin kelompok demo yang mau mediasi. Udah nunggu lama-lama, taunya mereka ga jadi dateng. Ya manyun.

Yang saya dan Putri ga akan lupa ya itu, pas jadi Ayu Tingting. Nyari alamat korban pesawat Cessna yang jatuh di Cirebon. Saya nyari satu rumah di kawasan Pejaten sementara Putri di kawasan Bintaro.

Alamat lengkapnya ada mas?
Ga ada Fa. Kamu cari ya. Namanya Ini.
Siyap

Dan pada siang yang cerah itu, saya nyusurin Pejaten. Clueless. Pertama excited. Lalu putus asa. Trus nelpon Putri deh.

Put! Gue gak nemu-nemu! Udah nanya sampe nongkrong sama kakek-kakek setempat! Lulusan S1 gini amat ya kerjaannya?! *Masuk ke kolong comberan*

Eh si Putri lebih merepet lagi.

Bintaro ada 9 sektor Piiii. Gue nyarinya dari sektor 1 iniii. *teriak ala Ayu Tingting.

Lalu adalah arahan disuruh ke kantor Walikota trus ke Lurah trus ke RT. Ternyata itu rumah sebelah rumah pak RT. Dan fyi, rumahnya di poltangan. Pas saya nyampe, ada anak Metrotv lg mangkal. Nyolok ya bawa mobil pemancar gitu. Kenapa pas udah ketemu alamatnya baru nongol itu mobil pemancar? *nangis di pohon nangka*

Pindah lah saya dan Putri ke Travel. Senang ya berita beda bahasan beda. Karena masih bertiga (sama Mas Faya, redpel Travel) berita masih seadanya. Flow kerja juga belum bener, masih bisa pulang jam 5 sore.

Lama-lama, Traveltroopers nambah 2 (Afif dan Sastri). Konten berita makin banyak. Pembaca mulai nyariin berita. So long goodbye pulang pas masih ada matahari.

Dari yang mulai naik berita jam 10 tiba-tiba ada piket pagi. Jam 7 udah mangkal di kantor. Naikin berita. Lalu ada lagi yang namanya Travel Highlight. Dari yang pulang jam 5 jadi jam 7 malem trus bisa kadang sampe jam 11 malem.

Capek? Jangan tanya.

Setiap ada kebijakan baru, pasti ada bibir-bibir yang cemberut. Setiap hari kerja makin berat. Belum lagi weekend juga masuk. Setiap 2 minggu sekali, hari kerja kita itu 6 hari. Mantep.

Trus kalo liputan ke luar banyak yang bilang enak soalnya bisa liburan, digaji pula. Oh you have no idea. Kita jalan-jalan seharian. Sambil nyari info tentang destinasi itu dan sambil foto semua spot. Udah seharian dikuras tenaga jalan ke sana-sini, malemnya kita tetep harus bikin berita buat besok. Seringnya, tidur jam 2 pagi bangun jam 7 pagi. Mangkanya ada sub judul Laporan dari (manaaa gitu). Malah, kalo event, abis event beres langsung kirim berita. :)

Awal-awal liputan, saya demam berat pulang liputan dari Bali. Afif mimisan pulang dari Manado. Sastri flu parah pulang dari..mana ya Sas? :D

Tapi apa saya nyerah? Tidak. :)

Kenapa?
Karena kerjaan saya bisa bawa saya ke mana-mana. Dari ngikutin SBY sampe nyari patung Bruce Lee.
Karena setiap hari di kantor saya masih bisa ketawa-ketawa sampe sakit perut sama Traveltroopers yang lovely maksimal itu.
Karena saya bisa belanja dengan gaji saya ini. *ituu yang paling penting
Karena akhirnya saya sadar. Ini tantangan. Bukan beban yang harus saya lempar-lempar.

Di sini saya bisa belajar jurnalistik. Teori plus praktek. Langsung dari yang jago. Bahkan kemarin ada kelas jurnalistik dari foundernya. Wiii keren ya. :D
Di sini saya bisa belajar ga introvert sama orang baru. Jadi wartawan ga mungkin ga ketemu orang baru dan ga mungkin ga nanya kan?
Perkembangan signifikan dari kerja di sini ya itu. Saya bisa kenalan duluan. :)

Hari ini pas setaun saya di sini. Masih jadi anak bayi kalo itungannya sih. Mangkanya masih harus terus belajar.  Belajar nerima tantangan dan belajar ngurangin misuh-misuh. :DD

Here's where i worked for a year and still going on. :)



Minggu, 04 November 2012

Cynical, Masih Jaman?

Traveling memang ngasih efek yang beda-beda bagi masing-masing orang. Ada yang gak pernah kehilangan semangat,ada juga yang malah nyinyir.
Traveler yang semangat akan selalu berbagi kisah dengan porsi seperti first time traveler. Orang yang belum pernah traveling akan tergoda denger ceritanya dan pakar traveling bisa dengan tanpa tendensi dan judgement pas dengwrin kisahnya.
Beda lagi dengan si nyinyir. Selalu ada hal yang bosa dikeluhkan. Selalu ada bagian yang salah. Ketidaktepatan membuat dia malah membanding-bandingkan. Beberapa dari mereka malah bikin prang gerah kalo lagi cerita traveling.
Kenapa begitu?
Nanti dilanjut. Sekarang saya ngantuk. Esok hari kerja :)

Mean while, kamu tipe yang mana?