Sabtu, 05 Juni 2010

AlphaGemini: chapter 1 #1


 “Alpha bangun!
 “Gak”
 “Lekas bangun, Raja sebentar lagi masuk!”
 “Tidak Gemini, tidak.” Alpha melotot tidak setuju ke arah Gemini.
 “Baik, kau sudah bangun. Ayo cepat pakai bajumu.”
                Alpha melempar wajahnya ke atas bantal dengan setengah putus asa. Sementara gemini mondar-mandir di kamarnya gelap dan pengap, melakukan kegiatan dengan keributan yang teredam.
 “Cepat keluar, pelan-pelan jangan sampai ketahuan” Gemini menarik Alpha, tak peduli meski mata Alpha masih terpejam.
                Mereka berdua berjalan menunduk ke arah pintu pagar, berjingkat berusaha tidak berisik, lalu menyatu dengan kumpulan yang sedari tadi sudah membentuk tumpukan di tepian pagar.
 “HAPPY BIRTHDAY RAJAAAA!!”
                Berbagai daun kering dan sampah-sampah kecil yang berceceran di sekitar area itu otomatis berkumpul di tubuh seorang anak lelaki kurus yang bernama Raja. Kepala bulatnya tertutup topi, lingkaran hitam menjadi bingkai bola matanya yang jenaka, badannya yang kurus ringkih terbungkus oleh kemeja dan jaket. Raja terlihat cukup lelah malam ini, maka pesta penyambutan tanggal 5nya berjalan lebih cepat dari biasanya.
                Setelah puas menghabiskan makanan acara tanggal 5 Raja, kumpulan itu bubar, kembali ke sarang masing-masing. Kini tinggal Alpha yang menyender pulas di pintu pagar dan Gemini yang berusaha menarik Alpha kembali ke kamarnya.
***
 “Selamat pagi Alpha, ah tidak, aku lupa..”
 “Lupa apa Gem?”
 “Aku sedang marah padamu.”
 “Begitukah? Baiklah..”
 “Kau harusnya memperbaiki kesalahanmu”
 “Kau harusnya lekas berangkat ke sekolah, karena.. 10 menit lagi bel”
 “Aku benci kamu, Alpha”
 “Semoga harimu indah, selamat bersenang-senang di sekolah”
                Gemini menekan pedal gas dan membanting stir tanpa memperdulikan sekeliling, yang ia tahu, tindakannya itu mampu membuat Alpha kesal dan ia puas akan hal itu.
 “Hey gorgeous!” Kiana menyapa Gemini sesaat setelah ia turun mobil.
 “Hai princess” Gemini tersenyum manis melihat sahabatnya yang juga baru datang.
 “Still using that pink soap box?” Kiana menengok mobil Gemini sambil mencibir.
 “None can beat your BMW Z4” Gemini membalas sarkasme itu dengan santai. Kiana tertawa ringan dan merangkul sahabat mungilnya menuju kelas.
 “Gimana kabarnya pangeran idamanmu itu, Gem?”
 “Hari ini dia bener-bener nyebelin! Ampun! Masa gue nyeret dia dari depan pager sampe kamarnya! Berat!”
 “Kalian abis ngapain? Mabok?”
 “Kerajinan amat. Biasa, abis ngerayain tanggal 5 nya Raja.”
 “Oh I see. Then? Kenapa harus diseret?”
 “Oke cukup, mereka datang” Gemini melirik tajam pada gerombolan ribut di ujung pintu kelas
 “Sure” Kiana mengerti. Mereka diam selama beberapa detik dan tersenyum cerah ke arah 4 gadis cantik yang sayangnya terlalu ribut, yang mereka sebut sebagai teman satu geng.
“Haii..!”
 “Semalem tidur jam berapa kamu Ki? Kok aku bbm gak bales?”
 “Aku tidur cepet, maaf yah..”
 “Gemini si imut ini apa kabar sih, suka bengong aja deh kerjaannya..”
 “Bengong biar ada yang merhatiin dong”
 “Ah kamu bisa aja”
 “Buktinya kamu, merhatiin aku kan? Hehe”
 “Eh besok udah masuk liburan kan? Berarti hari ini hari terakhir masuk dong? Asikk!!
 “Serius? Oh akhirnya..”
 “Kamu liburan mau kemana Gem?”
 “Kayaknya ke afsel, mau nonton bola”
                Gemini menjawab seadanya, menarik diri dari lingkaran banyak bicara itu dan mulai mengintip timelinenya. Bibirnya menarik ke atas dan matanya mengerling gembira. Liburan benar-benar sudah di depan mata dan berjuta rencana gila tersusun otomatis di kepalanya. Liburan bersama Alpha, dimana semua terasa berharga.
***
 “Alpha!”
 “Ya?”
 “Sebentar, kayaknya ada yang nelpon. Ya Nda, kapan? Iya.. love you too. Bye”
 “Ya?”
 “Bunda mau jemput aku minggu depan”
 “Ke?”
 “Perancis, mana lagi.”
 “Kenapa harus dijemput?”
 “Entah, berhenti jadi skeptikal. Ah udah deh Alpha jangan bawel”
 “Jadi kita berhenti bermain menjadi ms. Swann dan william?”
 “Udah, udah. Sekarang balik lagi.. eh hari ini hari terakhir aku sekolah loh, abis ini libur semester!! Liburan yuk!!”
                Gemini menandak-nandak gembira sambil menyentuh apa saja yang ada didekatnya, menandakan ia sedang bersemangat. Senyum lebarnya yang manis membingkai wajah cerah itu. Seragam putih abu-abunya terlihat tidak pantas bagi muka seimut itu.
 “Kamu harusnya jadi anak SD kayaknya Gem..”
 “Berarti kamu Pedophile dong?”
 “Siapa bilang aku suka kamu?”
 “Ah masih malu-malu aja sih ni om Alphaa..”
                Ia beranjak mendekati Alpha yang sedang sibuk dengan gitarnya dan mulai mengganggu ritual seni Alpha.
 “Pa’! Bagi odol dong!” teriak Aip di depan pintu kamar Alpha.
 “Ih a’ Aip berisik banget sih teriak-teriak melulu..” Gemini mencibir sambil mendekati Aip yang sedang memakai shower cap dan handuk. “A’ lagi mandi ya? Jorok ih becek tuh lantai terasnya..”
 “Aa keabisan odol Gem, aa mah ga bisa kalo gak sikatan. Kayak kalo mandi tuh belom sabunan gitu..”
 “Alesan ah si aa..”
 “Sikat gigi lo gak perlu sampe lima kali sehari Ip! Kayak gak ada kerjaan lain aja” Alpha berkomentar sambil menarik sikat gigi Aip dan mengoleskan odol secukupnya.
                Tidak ada yang akan dengan mudahnya meminjamkan odol ke seorang Aip, seorang pecandu sikat gigi. Tak ada odol yang kembali dengan isi, pasti kosong. Ia mampu menyikat giginya minimal lima kali per hari dan mandi setiap lima hari sekali. Sungguh kontras dan aneh. Tak ada yang tahu mengapa dan tak ada yang mau mencari tahu. Yang mereka semua sama-sama tahu, gigi Aip yang putih bersih sungguh kontras dengan kulitnya yang seperti coklat karamel.
  “Makasih yak Pa’!”
 “Yoi”
 “Minjem odolnya dong..”
                Gemini meminta dengan suara super imut, yang membuat Alpha memberinya tanpa rasa curiga sedikit pun. Gemini mengoleskan odol ke jari tangannya dan segera mengejar Alpha untuk dikerjai. Seperti biasa, kamar Alpha akan segera berantakan dan teriakan cempreng Gemini akan segera bergema.
 “Alphaaaa”
 “Gemini, jangan injek worksheet aku! Gemini!”
 “Aa Alpaa’..!” gemini menirukan logat Aip dan masih terus mengejar Alpha yang kini mulai terpojok di tembok. “Mau kemana kamuu..”gemini memainkan jari-jari yang terbalut odol dan mendekati Alpha dengan muka jahil.
                Alpha mengangkat kedua tangannya dan pura-pura menyerah. Meski Gemini tidak mudah terpengaruhi, tapi akhirnya ia menyerah juga. Sesaat setelah Gemini menurunkan tangan odolnya, Alpha langsung menarik Gemini dan gantian memojokkannya di tembok.
 “Sekarang kamu yang mau kemana..?” ucap Alpha dengan suara kemenangan, membuat Gemini berteriak histeris. Karena ia tahu benar balasan seperti apa yang akan dilakukan Alpha.
 “Nggak, nggak! Please aku cuma becanda, let me go..let me go!”
 “Shhh, jangan berisik..” Alpha berbisik lembut di telinga Gemini yang membuat Gemini terdiam seketika. Jantungnya berdegup super keras dan wajahnya memerah tiba-tiba, tanpa diperintah.
                Alpha tersenyum simpul, wajahnya mendekat ke wajah Gemini, mata elangnya memandangi mata Gemini dengan seksama, tanpa mengedip sedikitpun. Hidung mereka sudah hampir bersentuhan.
 “Gemini..” bisik Alpha pelan. Tangan Alpha masih memegangi kedua tangan Gemini yang sudah lemas tak berdaya.
 “Ya..”jawab Gemini dengan suara tercekat. Kini hidung mereka benar-benar bersentuhan.
 “Mending kamu mandi sana. Udah sore.” Ucap Alpha sambil melepaskan kedua tangan Gemini dan tersenyum jahil.
                Kaget dengan perubahan yang sangat tiba-tiba, Gemini terlihat sedikit linglung dan berusaha mengumpulkan kesadaran. Dan ia pun kesal sejadinya ketika menyadari bahwa ia baru saja dikerjai habis-habisan oleh Alpha.
 “Rese banget sih jadi manusia! Nyebelin!”
 “Mandi yang bersih ya, mau minta odol juga?”
 “Bodo!” jawab Gemini tidak peduli, ia pergi dengan menghentakkan kaki. Membuat Alpha terpingkal geli.

Kamis, 20 Mei 2010

Anggota congci: Billy

Seorang teman asal menado yang nyentrik
Dengan kata-katanya yang penuh trik
Mengisi hari yang memang terik
Jiwanya sungguh unik
Isi kepalanya tak kalah menarik
Ia benar-benar berisik
Namun sungguh penuh sahaja dan baik.

Awan mendung sedang menggelayut diatasnya
Sang bunda telah kembali ke pangkuanNya
Meninggalkan Billy nyentrik terpuruk tak mampu berkata
Kuat ya,
Kau mungkin mati rasa, kau mungkin tak ingin kembali merasa
Meraba masa lalu tidak akan mengubah apa-apa
Tabah dan jadilah pemuda kuat yang selalu didambanya.
Kami jauh jadi tak mampu merengkuhmu
Tapi kau pasti tahu berapa besar sayang kami untukmu
Tak apa berduka, ambil saja waktumu untuk itu
Tuhan, Mami, dan kami menyayangimu.


Sabtu, 15 Mei 2010

What to worry?

This recent day would be my lousy days. In fact that I've been disappointed by things that just not going well. I took my time to thought, mad, cried and regretted.
This issues not happen by just happened. It has its own messing-chain. A thing become worst, a people getting peeved and other human being just come and brought box of Pandora. It just perfect.

May 16th should be my continued lowest-term-in-my-life part. It started with traffic in Kemang. We (me and Rani) decided to have late dinner in KFC cause they have nice spot above. 
This is our after meal pic, I can't get the complete meal cause, i just didn't remember. I forgot things nowadays.


This is the moment when i tried to put smile on my face. It took like million times to made this. And voila it still didn't worked. So i made that jellyfish-face-look-a-like instead a simple smile.~






I don't know why i keep listening to Coldplay - fix you, when i trapped in lower term. Maybe it because the drama queen thing. The lyric and Christ Martin's voice are such perfect combination to collect forgotten tears. When you try too hard to forget or when you try way too far to ignore, this song is a soft killing alarm to reminder.
And now im blaming that song which hiding my smile in I-don't-know-where.
Here's couple snapshots proving that my smile has been stolen by Coldplay.  






I don't remember what was on my phone that makes me looked like seein hell there. On 2nd pic, it's a snapshot where i looked up to find out a noise above but what i see right now is me lookin up to a God wishing desperately. Gohh, what a mess. 
Rani forced me to smile every time we took a picture but at the same time i just freeze without moving any muscle in my face. It keep going on and on until i finally got my smile back. 


We trapped between Ex and GI, stores are commonly closed, we looked around to find out where exactly the exit door. But in the way for finding the door, we found many interesting spots to be captured. Since our narcissism are high enough, we easily fit ourselves in spots and captured ourselves in unusual-usual poses. The photo session going so well, exception: a security man who scared us with his mystique voice, ask us to captured him and just went away after blitz touch his eyes. Rare though.

Here's couple result of our photo session:


















By the end of the day I slowly realize that what we have done tonight is quite fun. I looked into tonight photo folder and found out that my smile's back. Then i sudden realize, what to worry, live your life happily baby! :))


What to worry?

:)

 

Rabu, 12 Mei 2010

karma police, come here please.

karma police, arrest this man.
He talks in maths
He buzzes like a fridge
He's like a detuned radio
-Radiohead, Karma police

You might think im cool. You think it's funny.
I said you're mean, you think it's fine.
I said im hurt, you said you don't care.
It's (not) fine. It's (not) okay.
Karma police, arrest this man.

Dump is fun, just hum and run.
Making fun at me, break me into pieces.
'please its nonsense, she'll be healed someday'
Yeah I'll be healed then faded.
You'll be damned or maybe i am already?
You really ruining my life.

Karma police, arrest this man
or maybe not.
Let him free. Let him find his destiny.
That lead him into his karma.
      -What goes around comes around.




Selasa, 04 Mei 2010

Tuhan, bisakah kita bicara?

Aku kehilangan kepercayaan padamu Tuhan, maaf untuk itu.
Mungkin aku tak sabar, mungkin aku memang bukan umat yang baik, ampuni aku untuk itu.
Sadarkah, hanya umat taatMu lah yang suaranya sampai ke langit. Menggelitikmu dengan permintaan mereka dan melembutkan hatiMu dengan kesungguhan mereka, sehingga dengan kasihMu mereka hidup dengan jiwa berkecukupan.
Hanya mereka yang taat yang mampu mencintaiMu sepenuh hati, memohon dan memuji tanpa berharap imbalan. sampai hanya dengan mengingatMu mampu membuat mereka tenang dan berkecukupan, beruntunglah mereka.
Sementara aku, aku datang kepadaMu jelas-jelas dengan tujuan. Demi kepentingan sendiri dan -ampuni aku Tuhan- tanpa cinta yang cukup untukMu.
Aku bersujud, menengadahkan tangan dan bersimpuh semata demi ego pribadiku. Demi harapanku yang hanya akan menimbulkan keuntungan pribadi, tidak lebih tidak kurang.
Sabarku dibuat, ikhlasku dicangkok, kesungguhanku prematur. Aku merasa seperti seorang munafik.
Lalu rasa jijik menyergap, membuatku meninggalkanmu. Karena aku sungguh tak ingin mengotori agamaku, keyakinanku.

Kini aku menangis,
Untuk apa?
Untuk kehampaan ini. Untuk kaki yang bergerak mundur, untuk hati yang perlahan mengering, untuk keyakinan yang sedang megap-megap bertahan hidup.
kosong meraja saat waktuku meminta padaMu datang, berat rasanya meninggalkan sujud nikmat itu.
Tapi aku tak mampu tulus padamu. Maafkan aku.

Tuhan, jangan paksa aku jadi munafik.
Biarkan aku menjauhiMu, meski tak tahu kapan kembali.
Aku ingin mencari cinta untukMu lebih dulu.

Minggu, 25 April 2010

Its about 2 males: woman's option: life needed.

I have a story told by a friend. Its about two males that arguing their types of future woman or we simply named as wife. 1st male definite that a woman must be independent, smart, active and dynamic. Lets make it simple: he likes a career woman. While 2nd male explain the opposite. A woman have to be a good mother which it take her to be at home,full time, in order to watch and assist their kids grow up. Because, to him, there's nothing can be more important than mother's appearance in every step of kid's life terms.
And here we come the debate:
1st male: it sure won't be a problem if mother has her own career. Because if she smart, she would be dynamic. In this case, she could use her skilled brain to make some dynamic method to divide and combine career life and motherhood life.
2nd male: he still believe that the best place on earth for mother is in home. For him, what's been said by 1st male were just a bunch of theories that won't work in reality, at all. 'cause once you love your career life, there will be no place big enough for other things to be taken care of.

The debating seems everlasting and they're still on their own beliefs and opinions.
While am here write down their debate, being some what unintended moderator, I'll have couple words to share. Important to mention, this is my independent opinion, no judgment at all.

A girl was born to be a woman, can't deny it. But, its her choices whether she gonna be a mom or not. And if she chooses to be a mom, its also her choices how to live their motherhood life.
I saw many of career moms that have a great kids but not less of them that also have careless kids. It happens too with full time moms.
What am trying to say here is whatever a mother will be: full time career mom, part time career-home mom, full time home mom, it wont be a problem. Because it her choice AND her responsibility choose a way how to grow their kids into great kids (together with husband,for sure). Beside, there will always be a risk in every option.
There's a quote taken from a film titled Motherhood '..because dads only do something and moms do everything. -clara'
there, i believe that mom can be everything she wants and still can be a good mother.

Back to that 2 males, i kept myself on thinking, why did they couldn't find any good same solution while i choose to give woman their own option. i finally realized that they have different background.
1st male live in a world where work is a must, that turned him into a workaholic. Where deadlines changes into datelines, where problems become the most fun adrenaline-burst, where loads of papers looks like bunch of the most interesting literature works. Where idle don't exist in his dictionary,because life told him to.
While,
2nd male already lived in some what self-centered working family. Where gathering is just hard like hell, where love is cost by a thing not by the appearance, where house just become a terminal to reload things, not a place to live together.

That is why they keep arguing and find no same solution. Life makes them to choose who fits them the best.

Jumat, 12 Maret 2010

My fav short story.

Lambaian tangan 90 derajat

            Tanganku sibuk memilih baju apa yang akan kupakai. Malam ini istimewa. Hanya terjadi 2 kali dalam sebulan. Mungkin lebih jika aku sedang beruntung. Bibirku tertarik keatas membentuk sebuah senyum permanen di wajahku. Mataku berbinar tanpa bisa kusembunyikan. Sebuah ekspresi emas ditengah kehidupanku yang berkarat ini.
 “Seneng banget lo Cit!” sapa Lala, teman sekamarku.
            Aku melebarkan senyumku sampai mataku menyipit bahagia. Sudah, cukup senyumku saja yang kubagi. Lainnya tidak. Toh takkan ada yang mengerti juga. Lebih baik aku menyimpannya sendiri. Lebih indah begini.
            Waktu mulai menunjukkan pukul 10 malam. Ia belum datang juga. Ini malam minggu. Seorang gadis normal akan dikunjungi pacar pada malam ini. Berkencan, berbagi cerita dan berlimpah cinta. Pulang dengan tidak rela dan segera menelepon ketika baru berpisah selama 5 menit. Seakan waktu seperti berlian yang kasat mata. Begitu mahal dan berharga.
            Aku bisa jadi salah satu dari berjuta gadis normal yang mengalami hal itu. Aku dikunjungi, kami berkencan, berbagi cerita, namun berlimpah nafsu. Bukan cinta. Tapi apalah itu, nafsu adalah pengertian cinta yang baru. Jangan protes, biarkan aku berdiri di atas pendirian rentaku ini.
 “Cit, dicariin tuh!”
            Aku terlonjak. Tertarik dari dunia kecilku. Aku mengerjapkan mata dan segera mencari siapa yang mencariku. Ia datang. Dengan senyum yang biasa dan gerakan tubuh yang sudah kuhafal. Tangan kirinya ada di saku celana sementara tangan kanannya terangkat membentuk sudut 90 derajat yang kuartikan sebagai lambaian tangan. Aku tak bisa menyembunyikan senyumku. Dadaku bergetar pelan.
            Tanganku meraih tangannya. Kami bergandengan tangan. Berjalan pelan di tengah hiruk pikuk suasana yang tercipta. Aku menapaki langkahku perlahan. Ingin merasakan keindahan ini dengan sungguh-sungguh.
 “Apa kabar?” tanyanya.
            Sebuah pertanyaan retoris. Sungguh tak perlu jawaban. Karena tepat setelahnya, ia sudah sibuk denganku. Dengan tubuhku tepatnya. Tak usah terburu-buru. Aku sepenuhnya milikmu. Semua ini untukmu dan memang hanya untukmu.
            Tanganku menyeka peluh didahinya dengan perlahan. Penuh perasaan. Mungkin ia tak menyadarinya, pasti ia tak menyadarinya. Matanya terpejam serius. Aku memilih membuka mata, memperhatikan detil wajahnya. Alis hitamnya, hidung lancipnya, bibir tipisnya, kelopak yang menyelimuti mata coklat tuanya. Matanya, yang sering kali aku terbawa didalamnya. Menyelam seorang diri. Menikmati kepekatannya, misteri yang tak berani kuungkap.
Sering ia mengatakan betapa indah senyumku. Percayalah, matamulah yang membuat segalanya menjadi indah. Bahkan di tengah pengapnya kehidupanku, keindahanmu mampu membasuhku. Hadirmu sama seperti lainnya. Hanya hatiku yang mengatakan kau berbeda. Maka aku menyerah padamu, seadanya.
Nafasnya berhembus pelan, detak jantungnya teratur. Ia terlelap, dipelukanku. Tak ada hal yang lebih indah yang bisa kubayangkan selain ini. Keindahan ini akan berlangsung kira-kira setengah jam. Setengah jam yang setiap detiknya kuresapi sepenuh hati. Setengah jam untuk merengkuhnya dengan tenang, setengah jam yang diisi dengan mengelus rambutnya atau menyatukan detak jantungku dengannya. Yang biasanya tidak imbang, karena selalu aku yang berdetak lebih cepat. Setengah jam yang bahkan rela kutukar dengan seluruh hidupku.
Matanya membuka perlahan. Tepat setengah jam. Aku telah menghitung setiap detiknya. Matanya kembali menutup, mulutnya bergugam pelan pertanda ia tak rela untuk bangun. Aku memandangi makhluk tuhan dimana telah kutitipkan hatiku padanya. Meski ia tak tahu.
Ia telah beranjak. Kini mulai berpakaian. Aku masih memandanginya. Memang hanya itu yang bisa kulakukan. Masih kurasakan wangi tubuhnya disekelilingku. Kuhirup diam-diam. Kusimpan di paru-paru, agar sang hati bisa ikut membauinya. Ia bergerak pelan, tidak seperti biasanya. Mungkin ia terlalu lelah.
Ia mencari dompetnya, mulai menghitung uang, mengambil sejumlah diantaranya. Lalu ia memandangku. Inilah saat dimana ia akan mengucapkan ‘sampai ketemu minggu depan’ atau yang sejenisnya. Inilah saat dimana ia akan tersenyum dan berterimakasih padaku. Dua hal yang cukup indah untuk diabadikan di setiap pertemuan kami.
 “Makasih ya” ucapnya sambil menaruh uang di meja.
            Aneh, ia tak mengatakan kalimat biasanya. Mungkin ia lupa. Aku tersenyum menjawab terimakasihnya dan kembali menunggu. Kalimat yang lupa ia katakan.
 “Oh iya..”
            Ini dia, kalimat yang akan menjadi semangatku selama 2 minggu kedepan.
 “..minggu depan aku nikah. Dan kayaknya aku ga akan kesini lagi deh. Jadi ini pertemuan terakhir kita. Makasih buat selama ini ya, Citra” ia meluncurkan kalimat itu dengan santai. Ia bahkan menyebut namaku dengan senyum.
            Aku limbung. Tersihir dengan kalimat terakhir yang dikatakan olehnya. Jemariku membeku, wajahku membatu. Jantungku berdegup tak karuan dan hatiku mati tak ketahuan.
            Ingin aku berlari dan memeluknya. Memohon agar jangan pergi. Atau setidaknya jangan tidak kembali. Biarkan aku menjadikanmu matahari. Meski poros kita tak sama. Biarkan aku merasakan hangatmu walau harus menempuh waktu putaran yang lama.
            Aku memegangi dadaku. Menahan sesak yang entah datang dari mana. Kakiku kutancapkan kuat-kuat di kasur. Tak mungkin aku menghambur ke dirinya. Aku siapa?
            Ia kini sudah berada di depan pintu, melambaikan tangannya dengan bentuk 90 derajat. Lambaian perpisahan yang tak biasa. Namun cukup ampuh untuk membuat perasaanku hancur binasa.
            Pintu telah tertutup. Begitu juga dengan hidupku. Sudah tutup. Baru saja aku mendapati perpisahan yang paling tidak romantis sedunia. Ia bahkan tak mengecupku barang sekejap atau memelukku walau sejenak. Hanya berjalan pergi sambil melambai aneh. Hatiku perih sejadinya. Muntahan kata-kata cinta untuknya yang sedari tadi ada di tenggorokanku sudah tertelan hilang bersama sesak ini. Tersepak jauh oleh keadaan. Aku ditamparmu, kenyataan.
            Pria lain masuk melalui pintu itu. Pintu yang sama yang membawa pergi pemilik hatiku. Tak ada cara lain kecuali menghadapinya. Aku, si pelacur yang tak boleh merasa. Harus kembali bekerja walau hidupku berakhir baru saja.