Senin, 08 Agustus 2011

Beaches we've coming into, in Lombok.

Masih di hari yang sama, kami berencana mengunjungi Senggigi. Disinilah dimulai penyiksaan sesungguhnya. Bukan jalanan yang macet atau rusak. Tapi saya yang sudah mulai lelah dan jalanan yang makin jauh. Tidak masalah sih, soalnya kami masih sering menertawakan setiap hal yang kami anggap lucu.
Sudah saya mention kan mengenai ketidakmampuan saya membawa motor? iya, ditambah partener perjalanan saya ini gemar sekali bergoyang-goyang di kursi penumpang. Dia bergerak sedikit, saya teriak sekuat tenaga, dibalas lagi teriakan dari Mala, akhirnya kita main teriak-teriakan diselingi tertawa, motor bergoyang-goyang tak tentu arah. Kami jadi pusat perhatian. HAHAHAHA
Untuk pencitraan, seperti inilah jalanan dari Senggigi dan seterusnya.


Liat aja itu marka jalannya*pingsan*
Dan kita tidak ke senggigi, karena kami anggap senggigi terlalu ramai hari itu. Dengan sepenuh sotoy, kami melanjutkan perjalanan entah kemana, yang pasti ke jalan yg menjauhi senggigi. Dan jalannya benar-benar berliku patah, turunan tajam, pokoknya benar-benar nyiksa. *nyiksa kalo bawa motornya kayak saya*

setelah bertanya asal kepada beberapa orang yang kami lewati, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pantai Nipah. Lumayan jauh tapi at least jalannya masih bagus dan pemandangannya masih indah.
Laluuu, akhirnya sampailah kita di belokan cakep. Berhenti sejenak, melepas stress dan tawa. Aku bersujud syukur akhirnya bisa berhenti sejenak. 
ini pantai Nipah dilihat dari belokan cakep

mukanya udah gak ada yang bisa diatur lagi
Perjalanan sedikit lagi selesai, aku bersemangat menyetir. Daaann sampailah kita di pantai Nipaaaahhhhhh..!
satu-satunya gerombolan manusia diantara para sapi.

penampakan pantai nipah
itu tipe jalanannya *lihat di ujung tengah sana*

jejak pertama menyentuh pantai di lombok! yeayyy!
 Hari selanjutnya..
jenggg jengggggg!
Kami berencana menikmati pantai Kute Lombok, tapi Om Nanu merekomendasikan sebuah pantai yang sangat menggoda jiwa raga di daerah Sekotong. Setelah dilihat ternyata arahnya berlawanan. Karena saya keras kepala dan saya yang akan menyetir hari itu, jadilah kami pergi mengunjungi pantai di Sekotong dan dilanjutkan ke Kute selanjutnya. 
Hari itu kita memutuskan untuk menyewa mobil dan lagi lagi lagi lagi lagi lagi saya yang menyetir. Baiklah, mari kita mulai petualangan! 
Dimulai dengan jalan yang panjang dan menyenangkan. Menit berlalu, menjadi jam. kiri kanan mulai sepi dan jalanan makin menyempit. Berkali Mala turun untuk menanyakan arah, sampai akhirnya sampailah kita di Sekotong, yang ternyataaa..belum ada pantainya sama sekali. -________-
Kami melanjutkan perjalanan, ternyata ada dua alternatif. -Sekotong jalur atas dan sekotong jalur bawah. Di awal perjalanan kami memilih rute atas karena sudah terlambat untuk memilih yang bawah. DAAAAANNNNN di meter pertama rute itu sudah langsung tanjakan tajam. Gigi 3 langsung lompat pindah ke gigi 1. Dan selanjutnya jalannya sungguh sungguh sungguh *speechless*
Jalan kecil tanpa marka, aspal seadanya. kiri adalah hutan bambu dan sebelah kanan jurang curam. Diselingi dengan motor yang melaju tanpa rem dan Truk besar yang berjalan tidak kalah cepat dengan motor di bagian lawan arah. Mau pingsan juga gak bisa. Sepanjang rute itu saya hanya bisa teriak astagfirullah sampai serak. rutenya 10x lebih curam, berliku, dan kecil dari rute ke puncak Bogor.

jalannya beneran berombak..

lihat bolong di tepian jalan? hampir di setiap meter di sepanjang jalan.-___-
 Tapii, rute sinting itu terbayarkan pantai bagus yang berserakan di sepanjang jalan setelah rute sinting itu. :)


pantai tepi jalan, yang membuat saya berhenti mendadak dan loncat-loncat di pantai itu. :D

another street-side beach. Lovely!

gunung pink. begitu kami menjulukinya. seisi bukit itu diisi pohon berbunga pink tanpa daun. :)
Selesai sudah tersesat di Sekotong, perjalanan pun berlanjut ke Kute Lombok. Perjalanan yang lumayan panjang, tapi setidaknya tidak sesinting rute Sekotong. Sampai disana kita langsung berhenti di toko surfing dan tanpa lama-lama langsung menyewa papan beserta pelatihnya. We're going to surf! :D
para gadis penjual kain yang manis :)

seeing sight pantai kute selagi menunggu papan surfing disiapkan.
Okaaay! So we gone surfing! sudah ada 2 pengajar abege muda yang siap mengajari kita. Nyatanyaaa.. kita gak diajarin di darat dan malah langsung diajak ke kapal. Saya curiga.. 
'eh tunggu, kok naek kapal?'
'ya masa kita surfing disini?'
'ya kalo gak disini dimana dong??' *mulai panik*
'nanti disana, yang ombaknya bagus'
'mampus lah..'
dan kami pun diseret ke kapal dan diajak bercanda sementara air laut makin membiru yang menandakan kedalaman yang makin serius. Setelah 5 menit di atas kapal, jangkar akhirnya dilempar turun dan kami dipaksa turun juga ke air. YANG BENAR SAAAJAAAAA! aku pelukan sama papan surfing, kakiku sudah terikat lekat dengan papan. 
'Gak papa mbak, coba aja dulu'
'Never try, never know' -dan dia pun meloncat ke air gaya ikan lumba-lumba *minta digebuk*
yasudah, udah di tengah laut juga, jadilah saya loncat lalu gelagapan. MANA PAPAN SAYAAAA??! kelakuan saya membuat 2 anak pelatih itu terkakak. *bisa-bisaan mereka ketawa!*
Setelah kursus singkat yang tidak berguna, akhirnya saya mulai mengejar ombak. Setelah lelah ber-paddle sampai ke tengah, saya siap melaju bersama ombak! lalu datanglah satu ombak, baru mau gerak, eh udah kegulung dan keseret sampai ujung. Berkali mencoba akhirnya bisa, tapi belum bisa berdiri steady. tapi saya belum menyerah. tapi ya.. PADDLING DARI UJUNG KE UJUNG ITU CAPEK BANGET SODARAAA!!!  Dan gak imbang, antara waktu buat paddling dan waktu diseret ombak. Gak adiill!! 
Setelah berkali ciuman sama papan, berkali berhasil nungging dan kalo tidak salah, 2 kali berdiri, serta berpuluh kali teriak girang sambil tiduran sembari dibawa ombak, akhirnya saya kembali ke kapal. 
It was the greatest feeling when the wave brings you. It was GUHREATSS! Aku benar-benar suka sensasinya! :D :D
2 pelatih kami dengan papan surfingnya

Mala dengan 2 pelatih yang.. sialan. hahaha

Selesai bermain dengan ombak. We're so exhausted and so damn hungry! Jadilah kami berkunjung ke tanjung an untuk makan siang. *kami skip makan siang dan kami sudah benar-benar lemas ketika akhirnya bisa makan pukul 4 sore*
Wooooow! Tanjung an indaaahhh! Kami makan sambil ditemani angin dan pemandangan indah, nikmatnyaaa :)
Tanjung an, Lombok

batu yang kalau naik kesana harus bayar seribu.-__-

sendok alami buat ngambil daging kelapanya.

dan Mala memilih gigit langsung dibanding harus repot memakai sendok itu

pasir yang indaahhh.. *ini wajah kami setelah puas surfing dan kenyang makan* :D

Yap! Sudah sore dan waktunya pulang. Mengingat perjalanan pulang yang masih jauh, akhirnya kami pulang sebelum matahari tenggelam. 
senja di tengah jalan pulang.
Perjalanan pulang tidak kalah menantang. Tidak ada penerangan di tepi jalan, jalan satu arah namun dipakai untuk dua arah, banyak sekali motor yang melaju tanpa lampu, lampu mobil kami tidak lebih terang dari cahaya korek api (bahkan kami lebih dibantu cahaya bulan dibanding lampu mobil kami), truk yang berjalan lambat tapi tidak mau disalip, dan beribu kali jalan salah yang selalu kita ambil. What a journey!
It was fun, yet crazy! :)

Pura trip in Lombok

yellow bellow!
Setelah seharian ngecas tenaga, akhirnya kita memulai petualangan kecil memutari sekitaran Mataram pada tanggal 12 Juli 2011. Berdasarkan informasi, perjalanan hari ini lebih baik ditemani motor dibanding harus naik angkot. Jadilah kami diberi pinjaman motor oleh keluarga Om Nanu. (yeay asik gak perlu nyewa motor!)
FYI, Om Nanu adalah om nya Mala yang bersedia kami tumpangi selama di Mataram. Lovely family man combine with great wife and funny daughters. Bless them! :)
Masalah utama hari itu adalah: Mala tidak bisa menyetir motor dan saya, saya sayaaaaaa saya bisa dibilang tidak bisa juga. Meski dulu saya sempat menjadi pengendara motor, tapi itu hanya di sekitaran rumah dan sering juga nabrak dan terakhir kalinya saya membawa motor itu pada saat saya masih di bangku SMP. Jadi, membawa motor hari ini sungguh  merupakan MASALAH BESAR!! Tapi ini harus dihadapi. Kami berangkat dengan seribu doa dan jantung yang bertalu-talu. Haaaaaahhhh!!
inilah si monster yang menemani kami hari itu. Dengan Mala di passanger seat. haaahhh such a challenge!
Jadi tujuan pertama kami adalah taman Narmada. Itu terletak tidak jauh dari rumah Om Nanu, hanya sekitar 15 menit. Dengan dibekali majalah Visit Lombok dan Peta wisata Lombok dari tante Eti, kami menuju Taman Narmada dengan percaya diri. Meski dengan perlengkapan seperti itu, kita masih saja nyasar.-__-
Taman Narmanda itu apa, sebenarnya kita tidak terlalu tahu. Jadi kita hanya mondar mandir meng-WOW-kan sekitaran Narmada. Dibutuhkan Rp.5000,- untuk masuk ke taman ini. Taman ini cocok untuk bersantai. Sungguh deh, pohonnya rindang, udaranya enak dan tenang, anjing-anjingnya baik dan lucu. Taman ini juga ada kolam renang yang dibuka untuk umum, yang airnya masih tetap dingin meski matahari sudah ada di atasnya. Ini beberapa pencitraan dari Narmada
hall way di atas kolam renang. please kindly ignore her gesture. :D
view from top






Sudah puas bermain di Narmada, kita berpindah ke pura Suradadi. Tempat ini tidak masuk daftar kunjungan kami, tapi karena terletak cukup dekat Narmada, jadilah kita mengunjunginya. Ternyata pura ini sungguh tenang dan menyenangkan. Meski kecil namun tenang dan atmosfir khusyu terasa kental.


pencitraan pura

seperti biasa, setiap masuk pura diharuskan berpakaian sopan. yang memakai celana pendek diharuskan memakai kain. sementara yang berbawahan tertutup hanya menggunakan ikat pinggang putih.

Dua anak sedang berdoa, dengan gemerisik angin di antara daun dan gemericik air. Sungguh khusyu yang menenangkan.

pemberkatan dengan air suci.

Disana terdapat banyak monyet (ya kami sudah mulai terbiasa dengan monyet-monyet yang jahil dan anjing-anjing yang lovable) dan setiap sesajen baru diletakkan di altar, akan selalu ada serangan monyet. semacam guilty pleassure, antara harus tetap tenang dan ingin terkikik melihat monyet yg begitu jahil dan orang yang begitu sewot melihat sesajennya diporakporandakan. :P
monkey attack!
kolam mata air suci. airnya dinginnnnnn

Disana juga terdapat kolam dengan belut keberuntungan. Siapa yang bisa melihat belut tersebut dianggap sebagai orang yang beruntung. Tidak semua orang bisa melihatnya, daaann hari itu kita melihaat! Soalnya, ia sedang diberi makan, well, still, just our luck! :D
here's the lucky eel. :D
Pura ketiga adalah pura Lingsar. Jujur inilah pura yang paling saya nantikan. Membaca reviewnya membuat saya penasaran. Di pura inilah semua agama bisa bersatu dan berdoa. Islam, Kristen, Hindu, Budha, semua. Ada satu komplek yang berisi pura tersebut. Sebenarnya berdoa di pura ini merupakan turunan kebudayaan yang selalu berlangsung sehingga tetap berlangsung hingga kini. 
Tapi ternyata saya kecewa, diawali dengan gapura depan yang patah sebelah.

gapura di bagian sebelah kiri atas patah..
dan beberapa bagian di dalamnya yang kurang terawat.. Tapi saya tetap penasaran dengan komplek pura universal itu. Saya belum berkecil hati.

pintu masuk komplek pura universal. (maaf ya numpang eksis, gak ada stok foto lagi. :D)
Di pintu masuk saya disambut kolam dengan ikan keberuntungan yang bersebelahan dengan panggung dengan patung dan banyak sajen. di kedua bagian itu terdapat banyak orang yang sedang berdoa dan sangat kyusyu.

Kolam dengan ikan keberuntungan. Ibu itu berdoa dengan tenang, kekhusyuannya terasa sangat kuat.
Yang membuat saya terhenyak adalah, ada satu pojok yang berisikan kumpulan buah beserta beberapa orang. Mereka sedang melakukan suatu kegiatan namun tidak terlalu yakin apa yang sedang mereka lakukan, masalah utamanya adalah, sebuah radio menyala dengan suara cukup keras, yang sedang mengumandangkan lagu Katy Pery yang T.G.I.F di tengah orang-orang yang sedang khusyu berdoa. 
-sebenarnya masih syukur lagunya T.G.I.F, coba kalau peacock.. *speechless*

Kamis, 04 Agustus 2011

belajar berkeputusan

Ketika test pack menunjukkan garis kembar dan seketika duniamu terputar. Kau hamil, tanpa cincin di jari manis dan tanpa pria yang cukup meyakinkan. Apa yang akan kau lakukan?

Bukan hal baru, bukan juga sesuatu yang aneh. Saya mendengar hal itu sejak saya dari bangku sekolah menengah pertama, teman saya sendiri, menarik saya ke tepian ilalang dan bercerita, bahwa dirinya baru saja menggugurkan jabang bayinya. Tidak dengan tangis, tidak histeris. Hanya cerita datar tanpa tawa, tanpa ekspresi lain. Saya yang mendengar, sebagai hal baaru bagiku namun seperti biasa saja baginya, memberikan sensasi bimbang berkepanjangan, apakah saya harus tetap tenang atau guling-guling di ilalang mendengar berita yang begitu heboh. Nyatanya saya tetap tenang karena tidak ingin ia berhenti bercerita dan tersadar telah salah orang untuk diajak curhat. 
Saya terkagum-kagum dengan kedewasaan teman saya pada masa itu. Saya rasa saya takkan mampu berbicara sebegitu datarnya jika itu saya yang mengalami. 
Seorang teman saya yang lain pun mengaku, akan dengan sepenuh sadar berencana memiliki anak secepatnya jika ia belum menemukan laki-laki yang menurutnya cocok untuk dijadikan teman dalam berbagi hidup. Ia tak mau terlalu tua ketika mengandung. Baginya, bersuami atau tidak bukan lagi masalah baginya. Yang terpenting hidupnya tetap tenang dan aman. Ia tak ambil pusing dengan mulut-mulut sumbang di sekitarnya.

Beberapa ibu yang kukenal pun sudah berdamai dengan tradisi. Mereka tak akan membuang anak atau cucu mereka dari deretan pohon keluarga. Tidak. Mereka memilih menjaga anak mereka dengan mengurus darah daging beserta hasil benih mereka ketimbang mengusir mereka dari rumah dan mati gila memikirkan bagaimana nasib mereka di luar sana. Memang tidak banyak yang berpikiran begitu, namun ternyata ada. 

Mendapati ada jabang bayi di rahimmu tentu tidak akan menjadi hal yang besar jika kau memiliki ibu seperti itu dan kau memiliki kekuatan tambeng yang cukup besar. Lain halnya jika kau hidup di keluarga yang saklek dan harmonis, dimana tidak mengenal chaos yang seperti itu. Kau tentu harus bersusah payah, memikirkan bagaimana cara menggugurkan atau memohon pasanganmu untuk segera menikahimu dan menyembunyikan kehamilan beserta kelahiran si kecil.
Menggugurkan tidak akan menjadi masalah yang terlalu sulit, mengingat sudah banyak kasus seperti ini dan praktek pembasmi bayi diluar nikah sudah seperti jamur.
Bagaimana jika kau ingin mempertahankan calon keturunanmu atau ternyata sudah terlambat untuk membunuhnya?
Apa jadinya jika keluarga tidak mau tahu?
Pilihan pertama: Kau harus pergi dari rumah.
Pilihan kedua: Menikah dengan laki-laki yang telah membenihimu.

Bagaimana jika sang pria tidak bersedia?
Pilihan pertama: Ajak baik-baik, ajak ayahmu mendatangi rumahnya.
Pilihan kedua: tarik rambutnya, masukkan ke boneka teluh (hehe)

Tak sedikit dari para wanita cantik rela terseret-seret mengejar kaki lelaki hanya karena mereka sudah pernah melakukan hubungan badan dan merasa ia tidak lagi pantas bagi laki-laki lain karena ia sudah dikecap oleh laki-laki yang ini. Tak sedikit dari wanita cantik yang keluar masuk rumah aborsi karena berkali sang lelaki malas memakai kondom. Tak sedikit angka perceraian berasal dari pernikahan berumur jagung yang didasarkan kehadiran terpaksa jabang bayi.

Pria mendamba wanita cerdas. Bukan hanya di bagian akademik, melainkan juga bagian pengambilan keputusan hidup. Hidupmu, sepenuhnya milikmu, tanggung jawabmu. Tak ada bagi-bagi masalah jika masalah itu terletak di dirimu. Sebelum kau buka kedua kakimu untuk orang lain, pikirkan matang-matang, apa kau rasa kau mampu menghadapi masalah yang mungkin terjadi setelahnya? Jangan ajak dia untuk berbagi tanggung jawab, karena ia hanya menyumbang, sama sekali tidak akan terlibat lebih jauh. Dan tentu saja, kau takkan bisa menyalahkannya jika ia pergi seenaknya dari sisimu atau kalau pun ia bertahan untukmu, hanya akan ada pertengkaran-pertengkaran menggunung diantara kalian karena kalian sama-sama belum yakin dengan pribadi masing-masing.
Jangan pernah menyalahkan pihak laki-laki kecuali kau diperkosa. Hubungan badan bisa terjadi dengan kesepakatan kedua belah pihak. Terserah bagaimana prosesnya, keputusan itu terjadi karena ada ajakan dari laki-laki dan anggukan dari wanita. Saya tidak menyalahkan laki-laki, kehadiran anggukan wanita adalah semata-mata kecerdasan laki-laki memainkan kata, perasaan dan keadaan yang sedang tercipta. Para wanita lah yang harus memaksa logika untuk bekerja lebih keras. Apakah kalian benar-benar siap dan yakin akan keputusan yang akan direpresentasikan otot leher yang menyuruh kepala untuk mengangguk. 
Tampar dulu dirimu sejenak jika dirasa terlalu mabuk dengan kata-kata manisnya. Ingat, apa ia sudah berjanji menjagamu sehidup semati di depan penghulu? Apa ia sudah mendatangi orang tuamu untuk menjadikanmu miliknya selamanya? Jika belum, pikir sekali lagi.
Jangan sampai kau menangis terseret langkahnya yang menjauhimu, karena dianggapnya kau terlalu mencampuri hidupnya. Jangan sampai kau terpaksa menikahinya hanya karena calon bayimu membutuhkan nama ayah di aktanya, sedang kau belum yakin apakah ia benar-benar menyayangimu. Jangan sampai. 

Jadilah wanita cerdas yang mampu mempertanggungjawabkan semua tindakanmu hingga tak ada kata menyesal yang membingkai masa depanmu.

Rabu, 03 Agustus 2011

ipersonic.com

Maaf ya sedikit narsis. hehe
Ada web bagus untuk tahu sedikit lebih dalam mengenai pribadi masing-masing. saya mencoba dan ini hasilnya:

Pelaku Peka

Tipe Pelaku Peka adalah orang-orang yang lembut, rendah hati, dan pendiam. Mereka menangani kehidupan sehari-hari dengan baik dan menyukai keleluasaan pribadi mereka. Dengan sifat optimis dan tidak banyak bicara, mereka juga adalah pendengar yang baik yang sering dicari orang dan orang lain merasa nyaman ditemani mereka. Singkatnya, tipe ini adalah yang paling mudah disukai dan paling ramah di antara semua tipe kepribadian. Toleransi dan sikap hormat kepada orang lain membuat kepribadian mereka menonjol. Mereka sangat penuh kasih sayang, murah hati, dan selalu bersedia membantu. Mereka terbuka dan tertarik pada segala hal baru atau yang tidak diketahui oleh mereka. Namun demikian, jika sistem nilai dalam diri atau perasaan keadilan mereka dilukai, tipe Pelaku Peka dapat sekonyong-konyong dan secara mengejutkan menjadi keras dan tegas.

Tipe Pelaku Peka menikmati kenyamanan kehidupan sebaik-baiknya. Mereka sangat bahagia dalam kehidupan sehari-hari. Tipe Pelaku Peka biasanya seniman berbakat atau perajin yang amat trampil. Kreativitas, imajinasi, dan terutama persepsi yang tajam hanya sedikit dari kekuatan mereka. Tipe Pelaku Peka sangat berorientasi pada kekinian; perencanaan jangka panjang dan persiapan tidak menarik bagi mereka. Mereka menghadapi hidup sebagaimana datangnya dan bereaksi dengan luwes terhadap tuntutan sehari-hari. Mereka tidak menyukai terlalu banyak rutinitas dan hal-hal yang bisa ditebak. Bakat mereka muncul ke permukaan ketika proses pekerjaan beragam dan tidak ada banyak aturan. Tipe Pelaku Peka suka bekerja sendiri; jika mereka menjadi bagian dari tim, mereka tidak terlibat dalam permainan persaingan atau kekuasaan dan lebih memilih hidup dan bekerja sama secara harmonis dan terbuka.

Tipe Pelaku Peka sangat puas dengan lingkaran pertemanan yang kecil namun akrab karena kebutuhan kontak sosial mereka tidak terlalu besar. Di sini mereka juga menghindari konflik – pertengkaran dan perselisihan menimbulkan cukup banyak ketegangan bagi mereka. Tipe Pelaku Peka biasanya sangat menyukai binatang dan sangat pandai berhadapan dengan anak kecil. Sebagai pasangan, tipe ini setia dan dapat diandalkan serta bersedia mencurahkan diri ke dalam suatu hubungan. Saling menghargai dan toleransi sangat penting bagi tipe Pelaku Peka. Kecintaan mereka terhadap kesenangan menjadikan mereka teman yang menyenangkan yang dengan mereka seseorang dapat mengalami saat-saat yang intens. Mereka suka memperlakukan pasangan mereka dengan penuh perhatian, memberi mereka hadiah-hadiah kecil, dan sangat peka terhadap kebutuhan-kebutuhan pasangannya – seringnya lebih dibanding terhadap kebutuhan mereka sendiri. Namun demikian, jika mereka bertemu orang yang salah, mereka memiliki risiko dimanfaatkan. Mereka akan mengalami kekecewaan mendalam jika itu terjadi. 

Most of it are right, :D

Web ini berdasar bahasa inggris jadi akan ada beberapa kalimat yang sedikit aneh terbaca disini. Jika terasa ganjil, kalian bisa kok pindah ke web English based nya. 
Ini link webnya, http://www.ipersonic.net/id 
english based site http://www.ipersonic.com/
Selamat mencoba :)

Senin, 01 Agustus 2011

Wave the Flag!

Aloha! 
Akhirnya! Tanggal 9 juli 2011 sampai juga di depan muka. Kami melangkah mantap menuju terminal bis Safari Dharma di Kebayoran. Karena bawaan kami begitu membludag, jadilah kami diantar bapakku yang baik. :D
Sudah kucium tangan kanan kedua orang tuaku, sudah kupeluk mereka dengan keras, sudah kutampilkan senyum dan janji terbaikku, “aku akan baik-baik saja!” sudah terlambai telapak tangan yang perlahan menjauh. Sampai hilang pandangan, aku menoleh ke arah Mala dan nyengir “Lets jump in!”

yeah we are so ready!
Berasa seperti jagoan baru keluar kandang, aku dan Mala duduk manis di kursi tunggu dan bercanda menunggu jam menuju pukul 15.00 yang kira-kira 15 menit lagi. Terminal begitu penuh dengan bis, orang dan barang bawaan. Semua sibuk, sangat terasa hiruk pikuk. Aku jongkok tenang di antara tumpukan barang dan kulkas. Menulis catatan sembari menunggu gadgetku dicharge. Menit berlalu, tumpukan waktu mulai membentuk jam, kami sudah menunggu hampir satu jam. Ya mungkin bisnya sedang dipersiapkan. Kami masih bisa bercanda, mondar mandir dan mengumbar tawa. Lalu matahari bergeser makin ke barat dan bis kami pun tak ada tanda-tanda mendarat. Aku manyun. Uring-uringan sok sibuk dengan ipodku. Seorang laki-laki duduk mendekati kami, mukanya hampir sama, maka aku bertanya “Mau ke Mataram juga?” dan dia mengangguk putus asa. “ih sama! Udah delay 2 jam ini” lalu kami kembali duduk lemas menonton televisi yang sedang menyajikan ricuh-ricuh PSSI.
Pukul 5.35 akhirnya sebuah bis kuning besar datang ke pelataran parkir dan seseorang membuka pintu ruang tunggu dan berteriak “MATARAM!”. Seperti dikomando, kami memasukkan barang dan duduk di tempat masing-masing dengan rapih dan tenang. Tidak ada misuh-misuh, tidak ada damprat, tidak ada tatap sinis. Hanya keteraturan yang mendukung agar bis itu segera berangkat. Terkaget sejenak, bagaimana bisa sebegini tenangnya, padahal delay hampir 3 jam. Suatu hal yang baru bagiku. Mungkin aku harus lebih belajar menjadi seperti mereka.
Hasil dari delay 3 jam adalah: Bis yang kita pakai adalah armada terbaik, dan baru. Yeay asik! Karena armada yang tadinya mau kita pakai itu ternyata rusak dan entah kapan benarnya. Bis itu benar-benar nyaaamaaannn. Shock breakernya benar-benar lembut karena airbag, kursinya besar dan lebar, drivernya lucu-lucu.
bis yang kami puja-puja
Perjalanan mengambil waktu 3 hari. 4 kali makan, 2 kali naik kapal ferry dan berpuluh jam di jalan darat. 72 jam itu menghasilkan perkenalan yang berujung pertemanan. Dengan ini kami mengetahui bahwa pak Hanafi, driver dengan tertawa yg super ajaib itu memiliki anak perempuan yang baru berumur satu tahun.
Sepotong pembicaraan lucu di jalan tol menuju Surabaya
“Pak anaknya baru satu ya?” Medelyn membuka pembicaraan
“Iya lagi lucu-lucunya tuh kayak kamu”
“Anak dari istri yang mana nih pak?” mbak Esti tiba-tiba ikutan nyeletuk
“Istri saya cuma satu, yang ini..”
“Oooh..” kita koor
“..Saya punya anak lagi sih sama yang sebelumnya, sudah jadi pengusaha sekarang”
“Yeh itu namanya bukan satu dong istrinya!”
“Enggak, tetep satu. Kan saya udah gak sama yang sebelumnya. Lagian dulu saya kan samen leven aja sama yang sebelumnya.”
“Ohh baiklah” *nganga*
“Emang istri bapak yang sekarang umurnya berapa?” aku iseng bertanya.
“Yaaa, se kamu lah. 22 tahun dia sekarang”
“Yah pak! Saya aja 24 tahun sekarang!”
“Hati-hati ditaksir loh” mbak Esti kembali nyeletuk
“Pak jangan naksir sayaaa” aku sok histeris
“Enggak lah, kamu mah kayak anak saya tuh cakepnya”
“Asik deh dibilang cakep” *nyengir*
“Eh tapi kalo Mala mirip sama mantan saya dulu tuh. Orang bogor. Kerja di pabrik”
Mala pun teriak kaget. Kami tertawa puas.
“Gara-gara liat kamu saya jadi inget dia deh”
Mala berteriak makin kencang, kami tertawa makin bar-bar dan pak Hanafi senyum-senyum lucu.
Dan masih banyak lagi pembicaraan-pembicaraan yang ringan namun sangat ampuh untuk membunuh waktu dan kantuk.
inilah penampakan bapak Hanafi kita yang lucu sekali. :D

Salah satu penghuni luar biasa di bis kami adalah sepasang suami istri beserta anaknya yang masih 8 bulan. Bukan sang ayah dan ibu yang menjadi sumber masalah, melainkan si bayi laki-laki yang bermata bulat lucu dan suara luar biasa. Kami menjulukinya bayi rocker. Dia mampu menangis berjam-jam dengan intensitas suara yang sama tinggi dan tekanan yang sama menyakitkan. Pertama kami kasihan mendengar tangis anak itu, aku tahu bagaimana rasanya berjam-jam digendong dan digoyang-goyang di dalam bis. Aku tahu ia ingin mengulet dan guling-guling di kasur. Lalu lama-lama mulai kesal karena tangisannya yang tanpa menyerah dan sungguh nyaring. Sampai akhirnya kuping kami terinisiasi dengan baik dengan teriakannya. Kami pun bisa tetap tidur nyenyak meski sang anak sedang konser besar.
Kupikir hanya aku dan Mala yang gemar membicarakan sang bayi rocker, ternyata seantero bis pun membicarakan hal yang sama. Tidak, tidak membenci, hanya membahasnya dengan kelakar.
“Pak, nanti nih ya, kalo saya udah tua, saya nyalain radio trus denger lagu rock, saya pasti tau suara dia. Saya udah hapal banget nih sama teriakannya si kecil ini. Nanti udah gede jadi penyanyi ya! Tar panggil-panggil pak Hanafi kalo abis nyanyi. Ya! Ya!” sang ayah pun tertawa mendengar canda pak Hanafi yang selalu ceplas-ceplos.
Perjalanan laut dari Padang Bai ke Lembar sungguh menyenangkan. 5 jam terombang-ambing dan kami memilih duduk di geladak kapal. Dengan 5 calon anak MAPALA dari IBI dan seorang pendaki Rinjani, serta beberapa orang tersesat lain yang memilih mengistirahatkan diri di bagian depan kapal, kami menghabiskan waktu. Entah itu tidur pasrah, berbincang atau sekedar menertawakan kelakuan orang lain. 
5 anak calon mapala yang akan mendaki Rinjani. mereka sungguh polos dan lucu-lucu. :P
Duo ratu tidur. Nesya dan Mala.
Di tengah laut, setelah bosan duduk bergoyang-goyang. Aku, Mala bersama mas Bond dan 5 anak calon MAPALA melongok lautan, aku begitu mengagumi kebiruan air sampai suatu yang berkecipak mengganggu penglihatanku. Dan ya, itu lumba-lumba. Histeris, aku memberitahu yang lain dengan kesenangan yang berlebih dan ternyata yang lain pun sama ributnya dan untungnya, para lumba-lumba memang sedang mengitari kami, mengikuti sambil menari. Mala dan mas Bond histeris memanggil-manggil lumba-lumba itu dengan panggilan “krrrrr kkrrrrr” lalu kami pun tertawa, itu ikan, bukan ayam. Sungguh ketertarikan yang berlebih, seekor makhluk tuhan yang sering kami lihat di tv atau seaworld, tapi begitu melihat nyata di habitatnya, rasanya meledak tidak biasa. :D
kkkrrrrr krrrrrrr

1st hour on the ship
 hours later..

Mala dan mas Bond, pendaki gunung yang pemabok laut, sangat.
entah ini para korban apa.. hahaha


Nesya n Medelyn yg seenak udelnya tidur di tengah jalan. diomelin pak Hanafi "bilangin itu anak 2, suruh tidur di bis aja. malu-maluin safari dharma aja" LOL

Tontonan gratis, pre-inisiasi 5 anak calon anggota. HAHAHA

11 juni 2011, pukul 3 sore, di depan kantor Safari Dharma di Mataram, kami saling berjabat tangan dan membekali kenalan dengan doa sederhana, berkata akan bertemu lagi, nanti itu kapan. Saling tersenyum dan berjalan berlawanan arah. Lambai tangan dan senyum membingkis perpisahan itu dengan apik. 
Sisa-sisa penumpang yang masi mau eksis. there's rocker baby among them. :D

Yes we’re here, in Lombok!  *aku nyengir girang*